Terima Kasih Cinta

Diposting pada

 

Disaat aku berada didalam suatu ruangan yang sama, entah mengapa tatapan itu membuat aku yakin jika suatu saat nanti akan aku miliki. Walaupun banyak ketidak mungkinan kamu melihat kearahku tapi aku akan selalu melihat kearahmu, kearah dimana tempat yang selalu aku ingin tuju.

Musim hujan mulai datang, Rian berdiri dihalte menunggu seseorang datang. Ia terus saja tersenyum ditengah derasnya hujan, dan bus yang ditunggu pun tiba tepat didepan Rian. Ia melihat Nia turun tertatih takut jatuh dijalanan yang begitu licin hari ini, ia pun bergerak membantu Nia agar tidak terjatuh dijalan.”makasih ya”. Kata Nia yang lalu pergi tanpa basa basi

“iya sama-sama”. Kata Rian yang mungkin sudah tidak didengar oleh Nia

Tentu saja Rian tidak langsung pergi begitu saja, dari belakang ia mengikuti Nia dan memayunginya agar Nia tidak kehujanan.”ternyata sudah tidak hujan”. Kata Nia

Rian tersenyum mendengar ucapan Nia, bukan hanya kali ini Rian membantu Nia namun sudah semenjak ia mengenal Nia. Walaupun Nia tidak pernah menyadari kehadirannya tapi Rian tetap bahagia melihat Nia tidak kesusuahan, bahkan disaat-saat mereka berjalan bersama, saat dimana Rian selalu membantu Nia dalam keadaan kesusahan tidak membuat Nia mengetahui siapa yang selama ini membantunya. Ia hanya tahu jika apa yang dilakukannya atas dasar dirinya sendiri.

Sampai saat dimana Rian tidak muncul lagi hari ini, membuat Nia merasa ada yang aneh dan berbeda. Saat ia turun dari bus jalanan yang licin membuat Nia terjatuh tersungkur lalu dibantu oleh beberapa orang untuk berdiri.”Nia”. Panggil seorang teman kelasnya, Vivi yang kemudian memapah Nia berdiri

“makasih ya”. Kata Nia

“iya, kok kamu bisa sendirian sih”.

“oh kamu vivi ya”.

“iya aku Vivi”.

“untung ada kamu Vi”.

“kamu belum jawab pertanyaan aku Ni, kok kamu sendirian sih. Apalagi ini kan lagi hujan”. Ceplos Vivi yang seakan tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi.

“maksud kamu apa Vi, setiap hari kan aku emang sendiri”.

Vivi pun sadar jika selama ini Rian menyuruhnya untuk diam.”enggak kok Ni”.

“tapi aneh deh Vi, biasanya aku merasa saat aku turun pasti ada yang bantu tapi mungkin tadi nggak ada yang turun bareng aku kali ya”.

Vivi pun bingung harus berkata apa Nia bahwa sebenarnya selama ini yang membantunya adalah Rian, bahkan Nia tidak kenal dengan Rian yang sudah sejak lama memperhatikannya. Mungkin bukan karena Nia tidak mau mengenalnya, kebutaannya selama ini membuat Nia tidak bisa membuatnya melihat kearah Rian yang selama ini selalu melihat kearahnya, bahkan ia tidak sadar bahwa Rian yang selalu mengantar Nia kemana pun dan itu tidak bisa dilihat oleh Nia.”ya udah yuk Nia, kita kesekolah”. Kata Vivi yang menggandeng tangan Nia

Dalam hati Nia ada hal yang aneh yang mungkin tidak ia ketahui, kata-kata vivi hari ini sungguh membuat hati Nia diselimuti banyak pertanyaan. Apa mungkin ada hal yang disembunyikan oleh Vivi, apa mungkin ada hal yang ia tidak tahu selama ini. Nia pun memberhentikan langkahnya.”Vi, apa mungkin ada hal yang aku tidak tahu”? Kata Nia

Vivi terdiam tidak menjawabnya

“Vi, apa ada hal yang kamu tahu tapi aku nggak tahu”.

“Nia, sebenernya kamu selama ini nggak sendiri”.

“maksudnya apa”?

“Rian…”. Vivi menyebut kata Rian

“Rian, apa anak kelas kita”.

“kamu kenal”.

“aku hanya pernah mendengarnya, tapi ada apa dengan Rian”.

“sebenernya selama ini Rian yang selalu membantu kamu Nia, Rian yang selama ini membantu kamu saat kamu sedang kesulitan. Dan Rian juga yang selalu membantu kamu turun dari bus, bahkan ia memberikan payungnya buat kamu saat hujan. Bagi Rian kamu adalah hal yang selalu ingin dia tuju, walaupun kenyataan tidak memihak padanya”. Kata Vivi

“kenyataan, maksudnya”?

“Rian udah lama sakit parah, dan kamu yang selalu membuatnya semangat”.

Nia pun menangis mendengar apa yang diakatan Vivi, seakan-akan ia tidak percaya apa yang sudah dilewatkannya selama ini.”tapi kenapa ia tidak mau bicara sama aku Vi”.

“karena Rian nggak mau, kamu merasa kehilangan saat mungkin tiba-tiba aja dia udah nggak ada”. Vivi ikut menangis menceritakannya

“lalu diamana Rian sekarang”.

“dia udah meninggal Nia, mungkin setelah mengantar kamu pulang”.

Nia sungguh tidak menyangka apa yang sudah ia lewatkan, bahkan ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang selalu memberhatikannya dan melindunginya selama ini. Kini ia hanya bisa menyimpan nama Rian didalam hatinya, sebagai seseorang yang pernah ada didalam kehidupannya walaupun ia tidak bisa melihatnya tapi ia hanya sangat ingin mengucapkan terimakasih padanya…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *