RAIN (Hujan)

Diposting pada

 

Iya datang tanpa kita tahu jelas kapan itu waktunya, iya berhenti bahkan tanpa kita menginginkannya, dan iya adalah rahmat yang harus kita syukuri karena sadar atau tidak sadar tanpa kehadirannya kita bukanlah sesuatu yang bisa hidup, iya yang selalu kita keluhkan,.. dia ?? adalah hujan.

Pagi yang cerah tiba-tiba berubah menjadi begitu gelap dan tidak lama turunlah hujan yang begitu derasnya, Andin pun harus berhenti di halte untuk berteduh.”harusnya aku membawa payung”. Ucap Andin. Ia terus memandang hujan yang sedang derasnya, ia tersenyum seakan tak terjadi apapun bahkan seakan sangat bahagianya. Inilah hujan yang sangat ia sukai, walapun banyak orang yang membencinya namun entah mengapa ia sangat menyukainya.

2 Tahun sebelumnya….

Berawal dari kejadian 2 tahun lalu saat itu Andin sedang berteduh di halte yang sama, karena tak membawa payung ia terpaksa harus menunggu sampai hujan reda. Hujan yang deras membuat jalanan begitu sepi, tak lama seseorang berlari kearah Andin sambil menutupi kepalanya dengan tangan yang mungkin tidak berpengaruh karena ia tetap kebasahan, kemudian ia berdiri disebah Andin sambil mengusap badannya yang basah kuyup.

Satu menit pun berlalu Andin melirik kearah orang tersebut yang masih mengusap-usap badannya, tiba-tiba dia melihat kearah Andin sontak ia pun dipergoki sedang melihatnya. Andin berbalik seakan tak terjadi apa-apa.”apa yang kamu lakukan”. Ucap Andin lirih. Andin merasa tak asing dengan wajah itu, sepertinya ia pernah melihatnya disuatu tempat.”sepertiya tak asing, siapa ya”? Ucapnya lagi dalam hati. Tak lama Andin melihat kearahnya lagi, dilihatnya kembali dan dia sedang memandang hujan dengan wajah tersenyum dan tak lama mengulurkan tangannya pada butiran hujan yang menetes terkena atap halte.

”kenapa, aneh ya”. Ucap pria tersebut

Andin langsung memalingkan wajahnya karena malu.”engga kok”. Ucapnya Andin gugup.

”aku menyukai hujan, sangat menyukainya”. Dia melihat kearah Andin yang masih terlihat malu berpaling.

Suasana kembali hening, hanya suara hujan yang terdengar. Mereka pun hanya saling terdiam menghadap hujan yang tak kujung berhenti.”kenapa suka dengan hujan”. Andin mulai membuka pertanyaan.

”entah, aku hanya suka”. Jawabnya

Suasana kembali diam dan mulai canggung.”apa kamu tidak menyukai hujan”? iya bertanya pada Andin

”entah, hanya biasa saja”. Jawabnya

”alamat rumahmu dimana”. Tanyannya dan Andin menunjukan arah-arah kerumahnya

”kenapa kamu bertanya”. Tanya Andin.

“hujan sudah reda, aku pergi duluan”. Iya berjalan dan kemudian berhenti tak jauh dari tempat Andin berdiri.”sampai ketemu nanti malam Andin”. Ucapnya yang membuat Andin bingung. Andin pun heran apa yang dimaksud pria tadi bahkan iya tak kenal dengannya tapi dia tahu nama Andin dan untuk apa nanti malam.

Halte…

Hujan pun tak kunjung reda namun ia tersenyum mengingat kisah itu, dari kejauhan seseorang berlari kearah Andin sambil membawa payung. Ia baru saja mengingat kejadia itu tapi pria tersebut sudah datang untuk menjemputnya.”apa kamu lupa untuk membawa payung”. Tanyannya. Andin tersenyum lalu memeluk suaminya.

2 tahun silam…

Dengan penuh kejutan malam itu pria yang ditemuinya di halte datang kerumah Andin dengan membawa kedua orangtuanya untuk meminta Andin menjadi istrinya, yah malam itu pria tersebut datang untuk melamar Andin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *