Nikah Sirih

Diposting pada

 

Hari semakin larut asiknya berbincang tidak sadar Rena pulang terlalu malam, ia pun memberikan kabar kepada Fiki teman dekatnya untuk menjemput dirumah temannya. Dengan sigap Fiki berangkat untuk menjemput Rena dirumah temannya, sejak menjalin hubungan dekat dengan Rena, Fiki memang jarang bisa bertemu dengan Rena karena banyak alasan yang selalu Rena lontarkan kepadanya. Namun malam ini untuk pertama kalinya Rena memintanya untuk menjemput. Tentu saja Fiki sangat senang karena bisa dekat dengan wanita pujaan.

Sekitar limabelas menit Fiki tiba dirumah teman Rena, ia pun menelfonnya bahwa ia sudah ada didepan rumahnya. Dengan wajah cuek Rena menghampiri Fiki, entah apa yang ada dibenak Rena membuat Fiki menjadi bingung harus bagaimana cara mengajaknya berbicara. Enambulan menjalin hubungan Fiki tidak pernah berdua seperti ini dengan Rena, jadi keadaan seperti ini tentu membuatnya sangat bahagia.”tuben banget pulangnya sampai malam”. Tanya Fiki

“iya”. Jawabnya singkat

“emang kalian ngapain sih sampe lupa waktu seperti itu”.

“nggak ngapa-ngapain kok”.

Fiki memberhentikan motornya karena kesal dengan respon Rena yang sangat datar padanya, padahal ia sudah berusaha untuk menjernihkan suasana namun Rena tetap saja acuh kepadanya.”kamu kenapa sih Ren, aku ada salah sama kamu. Kenpa sih kamu cuek banget sama aku, kan aku ini pacar kamu Ren”.

“kok kamu berhenti sih, ini udah malem Fiki. Lagian emang kapan aku bilang kita pacaran, kita kan cuma deket aja”. Kata Rena seperti takut

“kita udah dewasa Rena, ya intinya aku butuh penjelasan dari kamu tentang sikap kamu ini”.

“aku Cuma….”. Rena ragu-ragu

“Cuma apa, coba jelasin ke aku”.

“aku malu”. Rena spontan

“hah malu”.

Rena mengangguk.”aku juga canggung kalo Cuma berdua kayak gini sama kamu”.

Fiki tersenyum senang mendengar jawaban Rena, ia tiba-tiba saja mencium kening Rena tanpa memberitahunya terlebih dahulu, Fiki berfikir Rena akan merasa baikan jika diciumnya. Namun bukannya mencairkan suasana tapi Rena langsung menampar wajah Fiki, seakan tidak terima dengan apa yang Fiki lakukan.”kamu kenapa sih”. Kata Fiki

Rena terlihat begitu marah pada Fiki, selama dijalan ia sama sekali tidak mau melihat kearahnya. Fiki sedikit bingung dengan sikap Rena, marah yang ditunjukan seakan-akan kesalahannya sangat besar sehingga Rena begitu marah pada Fiki.

Pagi hari di kampus….

Seperti biasa perkuliah berjalan seperti biasanya, Fiki yang asik denga teman-temannya sampai semua sirna dengan kedatangan Rena yang membuat semua orang pun terkejut melihat Rena yang tiba-tiba saja datang dan bersikap aneh padanya.”Fiki aku mau kamu tanggung jawab”. Kata Rena didepan semua orang yang membuat Fiki malu

“tanggung jawab apa sih Ren”. Fiki membawa Rena ketempat dimana mereka bisa berbicara berdua.”ada apa Ren, kenapa kamu bilang seperti itu”.

“ya aku mau kamu tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan ke aku”.

“tanggung jawab apa, emang aku hamilin kamu. Enggak kan”.

“emang belum, tapi kamu hampir hamilin aku”. Kata Rena membuat Fiki bingung

“maksud kamu apa”? Fiki kebingungan dengan sikap Rena

“Fiki.. Kamu udah nyium aku, kamu nggak inget”.

“ya ampun Rena, kita ini kan pacaran jadi kalo aku nyium kening kamu wajar kan”.

“nggak bisa gitu dong Fik, kamu jangan remehin hal kecil Fik karena hal yang besar berawal dari yang kecil. Kamu tahu itu, harusnya aku emang nggak pernah pacaran padahal aku tahu itu dilarang tapi aku langgar  dan ini semua salah aku”.

Sikap Rena yang sedih membuat Fiki berusaha untuk tetap baik padanya, rasa sayang yang tulus Fiki tidak membuatnya marah atau berniat untuk meninggalkan Rena. Justru ia sangat ingin bisa membahagiakan Rena.”ya udah aku minta maaf, jadi kamu maunya apa sekarang”.

Rena tersenyum sumringan mendengar perkataan Fiki.”kita nikah Fik”. Katanya polos

“nikah”. Fiki terkejut

“iya, aku udah bilang kok sama ayah aku kalo mau nikah dulu sama kamu. Yang penting kan sah dulu, dan nanti kalo kita udah selesai kuliah baru deh kita adain resepsi dan buku nikahnya. Nggak papa kan Fik”.

Setelah hari ini Fiki sadar bahwa hal yang mungkin dianggap orang itu kecil tenyata bisa membawanya ke gerbang pernikahan, walaupun awalnya ia tidak menyangka dan terkejut harus menikah diusianya yang masih sangat muda. Namun Fiki mulai belajar bahwa menjadi seseorang yang bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya, kini mereka telah menikah dan menjalin hidup rumah tangga yang harmonis tanpa diketahui banyak orang…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *