My Father Is My Mom 5

Diposting pada

 

Cerita Lima

‘’maaf ayah”

 

Alisa kembali ke kelas saat jam olahraga belum selesai, ia langsung duduk ke bangkunya dan bersandar dengan bantuan tangannya. Lagi-lagi Alisa memikirkan permasalahan dengan ayahnya, bahkan hari ini ia mendapat banyak titipan dari temannya untuk diberikan kepada ayahnya. Setiap ia melihat barang-barang itu membuat hati Alisa sedih karena mengapa semua temannya baik padanya itu karena ingin dekat dengan ayahnya, ia hanya ingin mereka bisa berteman dengan Alisa karena memang dirinya bukan karena ayahnya. Ia pun menangis sendiri dikelasnya, tanpa menimbulkan suara tapi saat Lia temanya masuk ia mengetahui jika suasana hati sahabatnya sedang tidak baik, ia pun berusaha untuk mendekati Alisa dan sedikit bisa menghiburnya.”Al”. Panggil Lia

Alisa tetap bersembunyi dibalik tangannya tanpa menatap Lia.”ada apa Li”? Dengan nada yang menahan tangis

“kamu kenapa, ada yang bisa aku bantu nggak”.

“engga Lia, aku Cuma mau sendiri. Kalo boleh tinggalin aku sendiri ya”.

Tanpa banyak bicara Lia pergi meninggalkan Alisa yang memang terlihat ingin sendiri, biarpun begitu Lia tidak tinggal diam. Tanpa sepengetahuan Alisa ia pergi ke kelas Fajar untuk meminta bantuannya, selain itu ia juga bisa lebih deket dan bisa mengenal Fajar.

Lia berjalan menuju kelas Fajar, karena masih jam mata pelajaran maka sekolah terlihat sunyi hanya ada suara guru yang mengajar didalam kelas. Sampai depan kelas Fajar ia pun bingung bagaimana harus memanggil Fajar, apalagi Fajar adalah orang yang sangat cuek dan terlihat tidak peduli dengan orang-orang sekitar. Lia pun hanya mondar mandir didepan kelas Fajar, ia memikirkan cara bagaimana bisa memanggil Fajar.

Melihat seseorang yang mondar mandir didepan kelasnya teman Fajar pun memberitahukan Fajar untuk sekedar melihatnya, tanpa ragu Fajar melihat kearah luar dan memastikan. Fajar melihat Lia teman Alisa dan ia pun meminta izin untuk keluar dengan alasan ingin kekamar mandi, karena Fajar ingin tahu siapa yang Lia cari. Fajar berjalan keluar dan seakan-akan tidak melihat kearah Lia, melihat Fajar keluar Lia pun spontan memanggilnya.”kak Fajar”. Panggil Lia

Dengan wajah sok cuek dan merasa tidak sengaja ia melihat kearah Lia

“kakak tau aku kan”. Tanya Lia kembali

Fajar hanya mengangguk

“aku temennya Alisa kak, aku kesini mau bilang kalo Alisa sekarang lagi nangis dikelas”.

“nangis”?

“iya kak, aku berusaha untuk menghiburnya tapi kayaknya aku nggak bisa. Mungkin aja kak Fajar bisa melihat Alisa sekarang, karena aku rasa Alisa lagi sedih banget”.

Fajar dengan sigap pergi ke kelas Alisa untk memastikan apa yang sedang terjadi, dan benar apa yang dikatakan Lia jika Alisa sedang menangis. Walaupun mereka sering bertengkar dalam hati Fajar yang sebenarnya tentu saja ia sangat peduli dengan Alisa, karena biar bagaimana pun mereka telah tumbuh dewasa bersama. Fajar mendekat kearah Alisa dan duduk di kursi didepannya, ia begitu yakin jika alasannya menangis pasti tumpukan kado dimejanya.”Al”. Panggil Fajar

Alisa hanya melihat lalu kembali seperti semula.”ngapain paman kesini”.

“jangan panggil aku paman, kamu bener-bener Al”.

“pergi sana, aku mau sendiri”.

Fajar sedang memikirkan cara bagaimana membuat Alisa berhenti menangis, ia tetap duduk walaupun Alisa sudah dengan jelas mengusirnya.”Al, sebenernya aku setuju sama kamu”.

Alisa menatap Fajar dengan wajah penuh air mata dan ingus dihidungnya.

“apa menurumu, kamu tidak terlalu jorok”. Fajar membuka tas Alisa dan mengambil tisu yang kemudian dibersihkannya ke wajah Alisa, sambil tersenyum dan menekan hidungnya

“sakit”. Alisa merintih kesakitan

“keluarkan semua ingusnya”. Kata Fajar

“nggak mau”.

“cepat”.

Tanpa perlawanan Alisa menuruti semua apa yang dikatakan Fajar padanya, biarpun sering bertengkar namun Fajar selalu membantu Alisa disaat-saat tersulitnya dan begitu juga sebaliknya dengan Alisa.

Fajar kembali duduk dikursi depan Alisa, ia melihat Alisa sudah lebih baik dari sebelumnya dan mulai terlihat seperti manusia.”ada apa”? Tanya Fajar

Alisa hanya diam cemberut

“masalah yang kemarin”.

Mengangguk

“emang sih terkadang mas Ali itu keterlaluan tampannya, dia benar-benar terlihat seperti anak muda. Aku sangat iri padanya”.

Alisa mengerutkan dahinya bingung

“ya bener kan Al, kalo ayah kamu itu terlihat seperti remaja. Padahal ya dia kan udah punya anak, bener nggak”. Berusaha menghibur Alisa

“bener juga sih, apa mungkin aku bukan anak kandung ayah. Apa mungkin sebenernya aku anak angkat”. Alisa kembali menangis

Fajar mengacak-acak rambut Alisa karena geram.”kamu bener-bener ya Al, nggak habis pikir aku. Otak kamu geser atau gimana sih”.

“tapi kan mungkina aja”.

“aahh terserah lah”. Fajar pasrah

Alisa kembali cemberut dan mungkin otaknya berfikir jika apa yang dipikirkannya itu benar, Fajar pun merasa bersalah telah membuat Alisa berfikir yang tidak-tidak.”Al, jangan bilang kalo kamu berfikir itu benar”.

“kalo emang benar gimana”. Kata Alisa polos

“ya enggak lah Al, ya ampun pikiran kamu aneh-aneh aja. Haruskan kita membuat ayah kamu jadi jelek, gimana”?

“emang bisa”? Alisa berharap

“engga sih”. Fajar menjatuhkannya lagi

“apaan sih paman, mau main-main ya”. Alisa tersenyum

“nah gitu dong senyum, dan oh ya jangan panggil aku paman”.

“paman”. Alisa meledek

“Alisa berhenti, apa itu lucu”.

“paman paman paman”. Alisa terus saja mengucapkannya

Fajar pun kesal dan menutup mulut Alisa dengan tangannya, ia pun tidak melepaskannya karena Alisa terus saja memanggilnya paman. Sampai seseorang teman kelas Alisa masuk dan kaget mendapati Alisa sedang bersama Fajar, melihat itu tentu saja Fajar dan Alisa langsung salting.”ya udah Al, aku kekelas dulu ya”. Kata Fajar langsung pergi

Alisa kembali ketempat duduknya dan membuka buku untuk menutupi rasa malunya, namun teman Alisa terus saja melihat aneh kearah Alisa.”ada apa”? Kata Alisa

“itu kak Fajar kan, kalian ada hubungan apa”. Tanyannya curiga

“nggak ada kok”.

Alisa kembali berpura-pura membaca buku karena malu, ia berusaha untuk bersikap biasa saja namun ia yakin jika ini pasti akan jadi gosip baru dikelasnya. Apa lagi Fajar adalah cowok populer disekolah pasti akan banyak yang menayakan padanya, tidak mungkin Alisa menjawab jika Fajar adalah pamannya karena Fajar pasti akan marah padanya. Alisa hanya bersikap pasrah dan berharap jika ia tidak akan menyebarkan gosip itu.

———-

                Sudah dua minggu Alisa ngambek pada ayahnya, dan entah mengapa satu minggu terakhir ini ia tidak melihat ayahnya dirumah karena menurut pamannya Haris jika ayahnya ada tugas yang membuatnya tidak bisa pulang. Ada rindu sekaligus bersalah didalam hatinya, mungkin karena sikap judesnya membuat ayahnya menerima tugas itu. Ia pun membuka ponselnya dan ingin menghubungi ayahnya tapi lagi-lagi Alisa mengurungkan niatnya gara-gara teringat apa yang sudah terjadi padanya, Alisa begitu kesal sehingga mulai mengabaikannya lagi.”ada apa”? Kata Fajar yang tiba-tiba datang

Alisa melihat kearahnya lalu hanya menggelengkan kepala dengan wajah yang begitu murung, Fajar pun paham pasti itu gara-gara Alisa merindukan ayahnya yang sudah satu minggu tidak pulang.”kangen sama ayah kamu”. Ucap Fajar

“enggak kok”. Alisa mengelak

“kenapa nggak ditelfon”.

Alisa hanya menggelengkan kepalanya

“aneh”.

“aneh, maksudnya apa”?

“ya aneh, waktu mas Ali dirumah kamu seakan-akan nggak butuh dan cemberut. Mas Ali nggak ada kamu juga cemberut, mau kamu itu sebenernya apa sih Al. Apa namanya kalo bukan aneh”?

Alisa terdiam mendengar perkataan Fajar, ia sadar jika ternyata kelakukannya selama ini seperti apa yang dikatakan Fajar. Ternyata waaupun ia kesal dengan ayahnya tapi biar bagaimana pun saat ayahnya tidak ada dirumah ia begitu merindukannya, dan bahkan berharap jika ayahnya cepat pulang agar rindunya bisa terobati.

Alisa berjalan lemas kekamarnya, memikirkan apa yang dikatakan Fajar padanya. Tanpa sadar Alisa meneteskan air mata mengingat semua yang dilakukannya pada ayahnya, karena ke egoisannya ayahnya jadi harus pergi untun membuat Alisa senang. Ia berbarng dikamarnya dan menangis menutupi wajahnya dengan tangannya, ia pun kemudian duduk dimeja belajarnya dan membuka salah satu bukunya.

Ayah maafin Alisa ya yah, pasti ayah kecewa dengan sikap Alisa selama ini. Alisa bersalah yah, tapi Alisa mohon ayah jangan pergi kemana-kemana lagi ya yah. Alisa rindu sama ayah……(Tulis Alisa pada selembar kertas)

                Alisa menutup bukunya karena mendengar suara ayahnya sudah pulang, ia pun berlari dan berpura-pura tidur untuk menghindari rasa malunya. Dan benar saja tidak lama ayahnya masuk kekamar Alisa dan mendapati Alisa sedang tertidur, Ali mendekati Alisa yang tidur. Ia mencium kening Alisa karena rasa rindunya.”maafin ayah ya sayang”. Kata Ali dan langsung meninggalkan kamar Alisa

Mendengar ayahnya sudah cukup membuat Alisa tersenyum bahagia karena sudah melihat ayahnya pulang, jadi rasa rindunya bisa terobati.”Alisa juga minta maaf ya yah, Ayah nggak salah apa-apa justru semua salah Alisa yang terlalu memikirkan diri sendiri”. Kata Alisa sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *