My Father Is My Mom 4

Diposting pada

 

Cerita Empat

“gosip itu berlebihan”

 

Hari yang ditunggu pun tiba wajah panik diraut wajah Alisa sudah tidak terbendung lagi, ia takut jika sesuatu yang buruk itu terjadi. Sebelum berangkat kerja Ali bersiap untuk pergi menemui panggilan guru Alisa, walaupun tidak ada sedikitpun wajah cemas atau gelisah diwajah ayahnya tetap saja Alisa merasa sangat bersalah atas perbuatannya. Tidak ada hentinya ia menyalahkan diri sendiri atas perbuatan yang dibuatnya selain itu ia juga sangat marah pada Fajar, karena biar bagaimanapun ini terjadi karena ia berurusan dengannya tapi tidak ada tampak rasa bersalah diwajah Fajar, justru ia terlihat sangat menikmati hari-harinya.

Alisa menambrak Fajar yang sedang memakai sepatu didepan rumah hampir saja Fajar terjantuh dilantai namun kekuatannya mampu menahan tambrakan Alisa, biarpun Fajar sebenarnya tau bahwa apa yang dilakukannya pasti atas dasar karena Alisa kesal kepada Fajar telah membiarkan Siska membuat keributan didalam hidupnya. Fajar membalas menambrak Alisa sebelum masuk ke mobil.”maaf ya, nggak sengaja”. Kata Fajar

“paman pasti sengaja kan”. Alisa terlihat begitu kesal

“jangan panggil aku paman, kamu bahkan tidak tahu bahasa Indonesia dengan benar. Aku sungguh tidak percaya kalo kamu anak SMA, kamu lebih pantas ada di TK”.

“apa! TK katanya, waaah paman emang ngajak ribut ya”. Kata Alisa yang seakan menantang Fajar

“Alisa”. Panggil Ali melerai pertengkaran mereka.”ayo masuk ke mobil, nanti telat”.

“ayah.. paman yang salah”. Alisa meminta pembelaan

“jangan panggil aku paman, ngerti”. Fajar masuk mobil dengan kesal

Jalanan tidak terlalu macet hari ini, perjalanan ini terasa sangat singkat dan makin tidak terasa dan lebih terasa cepat sampai. Padahal dihati Alisa berharap perjalanan ini bisa berlangsung lama tapi apa boleh dikata hari ini bahkan jalan tidak memihak pada Alisa.”kenapa cepat sekali sampai”. Kata Alisa lirih

Sebelumnya Fajar telah meminta untuk turun terlebih dahulu, jadi hanya ada Ali dan Alisa yang ada didalam mobil. Alisa kembali diam dan seakan tidak mau turun dari dalam mobil, ia takut apa yang akan di katakan oleh gurunya nanti pada Ali atau mungkin kejadian waktu ia SMP akan terulang lagi. Kejadian yang membuat semuanya berubah dan memihak padanya, Alisa sangat berharap semua tidak akan terulang atau mungkin akan lebih baik seperti kejadian itu bisa terulang lagi.”Alisa, ayo turun”. Kata Ali

“yah, semua akan baik-baik aja kan”. Alisa cemas

“semua akan baik-baik aja sayang, ayah akan berbicara dengan guru kamu dan semoga masalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Lagi pula kamu berbuat seperti itu karena dia yang memulai kan, jadi angan khawatir ya percaya sama ayah”.

“benar semua terjadi karena Siska yang memulai, aku nggak perlu khawatir. Tapi bagaimana respon semua orang jika melihat ayah, aku berharap itu juga akan baik-baik saja”. Batin Alisa.”ayo yah”. Kata Alisa

Akhirnya Alisa pun turun dari mobil dan bersama ayahnya mereka pergi keruang guru, tak lama setelah mereka berjalan keruangan guru. Seperti yang Alisa bayangkan semua menatap kearah ayahnya, yah siapa yang percaya laki-laki tampan dan masih muda ini adalah ayah kandung Alisa. Kejadian seperti inilah saat ia masih SMP dulu, mereka mengira kalau Ali itu adalah kakak Alisa karena memang penampilan dan wajah Ali terlihat seperti kakaknya dan bukan seorang ayah.

Alisa menunjukkan ruang guru didepannya, Ali pun masuk ditemani oleh Alisa. Tentu saja respon guru perempuan sangat berbeda pada Ali, dan mengira kalau Ali itu kakak Alisa. Seorang guru mendekat kearah Ali dan Alisa, tidak ada tampang galak atau sinis diwajahnya justru seperti wajah wanita yang sedang kasmaran yang terpancar dari sorot matanya.”dengan siapa saya berbicara kali ini, ada yang bisa saya bantu mas”. Katanya sedikit menggoda

“apa! Mas, ini benar-benar gila”. Batin Alisa

“maaf saya kesini karena dapat panggilan dari ibu guru”. Kata Ali sopan

“panggilan, apa saya pernah menelfon sebelumnya atau kita pernah berkenalan. Saya lupa pasti penggemar saya, maklum lah saya kan cantik”. Jawabnya terlalu percaya diri

“ibu guru, ini ayah saya. Ibu yang meminta saya untuk membawa orangtua, ibu lupa”. Sambung Alisa terlihat sisnis

“Alisa kamu jangan sembarangan ya, ngaku-ngaku mas ini ayah kamu. Umur kamu berapa sekarang, masa punya ayah muda seperti ini. kamu pikir ibu percaya sama kamu”. Kata ibu guru pada Alisa

“maaf sebelumnya ibu, saya memang ayahnya Alisa”.

“apa maksudnya, ayahnya siapa Alisa tadi bilang. Apa saya tidak salah dengar mas, tapi mas masih terlihat sangat muda mana mungkin”. Katanya kebingungan

Persis apa yang terjadi hari ini sama dengan saat Alisa masih SMP kejadian dimana semua guru dan siswa tidak percaya bahwa Ali adalah ayahnya, bahkan mereka berusaha mendekatinya hanya untuk sekedar bisa berkenalan dengan ayahnya. Sepertinya kejadian itu akan terulang lagi sekarang, murid dan guru akan berusaha baik padanya hanya untuk mendapat simpati dari ayahnya bahkan tidak sedikit yang menghubungi Ali dan menyatakan cinta padanya. Alisa berfikir apa kejadian waktu itu akan lebih baik untuknya atau mungkin sebaliknya, Alisa sangat memikirkannya dan apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi kejadian itu lagi.

Mereka pun dipersilakan untuk duduk dan menunggu wali dari Siska datang, sebelum rapat dimulai guru Alisa terus saja mendekati ayahnya dan seakan-akan menayakan perihal Alisa yang sudah jelas itu hanya basa basi untk bisa akrab dengan ayahnya. Selang beberapa menit Siska dan ibunya pun datang, wajah marah ibu Alisa membuatnya medekat dan bersender pada Ali, melihat tingkah putrinya seperti itu membuat Ali sadar bahwa apa yang dilakukannya mungkin salah. Ali pun memberikan salam dan menyapa mereka dengan sangat sopan, dan seakan-akan tidak terjadi apapun wajah ibu Siska berubah menjadi sumringah dan seperti tidak terjadi apapun. Ia terus saja tersenyum pada Ali bahkan melupakan masalah yang sedang terjadi pada putrinya.”siapa yang ada disini, apakah seorang artis. Kenapa wajahnya begitu tampan”. Kata Ibu Siska sambil tertawa kecil yang kemudian mendekati Ali dan menyingkirkan Alisa

“saya ayahnya Alisa, nama saya Ali”. Jawabnya ramah

“ayahnya? Bahkan anda masih sangat muda. Saya ibunya Siska, Ali bisa panggil saya mba Fitri”. Kata nya ganjen

Ali sedikit kebingungan dengan maksud perkataan ibu Siska.”maaf atas perlakukan anak saya Alisa, mungkin itu melukai anak ibu. Eh maksud saya mba”.

“hmmm nggak apa-apa kok kak, justru saya akan sangat senang jika bisa berteman baik dengan Alisa”. Sambung Siska

“kakak”? Ali bingung

“iya kakak, lagian kak Ali masih terlihat sangat muda. Kan malah nggak cocok kalo dipanggil Om”. Siska tertawa penuh arti

Entah apa yang terjadi bahkan Alisa sangat bingung, alasannya ia membawa ayahnya kesekolah adalah untuk memenuhi panggilan gurunya tapi semua itu berubah seperti acara perkenalan mereka. Alisa bingung harus menganggap ini bahagia atau duka untuknya, ia pun kembali ke kelas setelah satu jam mendengar obrolan tidak nyambung untuknya.”Alisa”. Seseorang dari belakang memanggilnya

Alisa hanya tetap jalan tidak memperdulikan suara yang dikenalnya itu.

“apa kamu tidak dengar aku memanggil kamu”. Kata Siska

“kenapa”? Jawabnya sinis seakan tahu maksud dari tujuannya

“aku minta nomor ayah kamu”. Katanya seakan tidak tahu malu

Alisa tersenyum sinis pada Siska.”kenapa? Apa sudah tidak ada pria yang lain didunia ini, aahh lebih tepatnya pria muda didunia ini. Kenapa”?

“karena aku menyukai ayah kamu”.

Alisa menghela nafas seakan-akan tidak percaya dengan perkataan Siska yang begitu tidak rasional dan tidak masuk akal, mana mungkin seorang siswi SMA menyukai ayah dari temannya.”tidak mau”. Kata Alisa dan pergi lalu berbalik.”jangan deketin aku lagi, aku nggak mau mendapat masalah dengan kamu. Dan satu lagi, aku tidak mau jika mempunyai seorang ibu seperti kamu, jadi jangan terlalu berharap”. Katanya judes dan pergi mengabaikan Siska yang terlihat tergila-gila dengan ayahnya.

——————

                Sejak kejadian tadi pagi tadi tentu membuat Alisa tidak habis pikir dengan semua orang, mengapa mereka begitu menyukai ayahnya yang sudah jelas-jelas memiliki anak yang telah dewasa. Alisa termenung dimejanya, ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya. Telfon Alisa berdering dan mendapat pesan singkat.

From : Paman arogan

Gimana, apa semua berjalan baik.

From : Alisa

Ya.

From : Paman arogan

Apa sesuatu terjadi.

From : Alisa

Berhenti bertanya, aku tidak dalam mood yang baik.

                Alisa kembali meletakan kepalanya dimeja, ia akan berusaha untuk melupakan semuanya dan menganggap semua ini tidak terjadi.”baik, apa salahnya mempunyai ayah yang tampan dan juga muda. Aku akan baik-baik saja”. Kata Alisa menyemangati diri sendiri

Jam istirahat Alisa memutuskan untuk tetap dikelas dan memakan bekal makanan yang dibawanya, ia lebih suka masakan ayahnya daripada harus membeli dikantin. Alisa sudah mulai tenang dan melupakan apa yang terjadi, sampai tanpa diduga-duga Maya teman kelasnya untuk pertama kalinya ia bersikap sangat baik bahkan membawakan air minuman untuk Alisa yang membuatnya heran dan bingung.”kenapa”. Tanya Alisa

“kok kenapa sih Al, ya itu buat kamu”. Maya bersikap sok manis

“kenapa? Kamu bahkan tidak pernah bersikap ramah sama aku”.

“udah lah lupain yang dulu Al, yang jelas aku sekarang mau ajak kamu berteman dan aku mau kamu gabung di geng aku. Kamu mau kan Al”.

“tidak mau”. Jawab Alisa singkat dan kembali menyantap makanannya

“apa! Nggak mau, kenapa? Padahal kalo kamu gabung sama aku nanti kamu bisa populer Al”.

“aku tidak mau populer”.

“Hellow Alisa, banyak yang mau gabung sama kita karena secara kita itu cantik dan anak orang kaya. Kalo kamu gabung nanti pasti banyak orang yang deketin kamu”.

“apa kamu tidak paham, aku tidak mau. Kamu nggak ngerti bahasaku, pergi sana aku nggak mau liat kamu disini dan bawa minuman kamu aku nggak butuh”.

Maya kesal dengan jawaban sinis Alisa padanya, Alisa pun bersyukur bisa menghindar dari Maya yang sok terlihat kaya. Melihat temannya didekati oleh Maya yang dulu tidak suka dengan Alisa membuat Lia sedikit penasaran dengannya, ia mendekat ke meja Alisa yang sedang menyantap makan siangnya.”Alisa”. panggilnya

“hmmm”.

“Maya kenapa”? Tanya Lia

“dia minta aku buat gabung ke gengnya, ya aku nggak mau lah kurang kerjaan banget”.

“kok Maya tumben kayak gitu, atau jangan-jangan karena gosip itu”.

“gosip?? Gosip apa”. Alisa penasaran

“katanya kalo kamu punya ayah ganteng, eh tapi emang bener ya ayah kamu ganteng dan masih muda lagi kayak umur duapuluhan gitu, tapi ya nggak mungkin lah secara kamu udah besar masa ayah kamu masih umur duapuluhan”. Lia tertawa tidak percaya

Alisa terdiam.”kenapa bisa secepet itu kesebarnya”? Alisa terlihat syok

“ya namanya gosip Al”. Katanya tidak menyadari jika itu benar.”tapi kok kamu responnya gitu, emang gosip itu bener”. Kata Lia curiga

Alisa merasa sangat tidak mengerti kenapa gosip itu begitu cepat beredar diluar sana, bahkan ia sendiri tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi perbincangan hangat disekolahnya karena memiliki ayah yang tampan apalagi gosip itu mengatakan usia ayahnya duapuluhan tahun itu sudah benar-benar diluar batas.

Sejak saat itu Alisa jarang keluar kelas saat jam istrirahat, ia juga lebih memilih untuk pulang setelah sekolah sepi untuk menghindari pertanyaan yang ia tidak ingin menjawabnya karena itu akan membuatnya lelah dan tidak nyaman saat semua orang menanyakan perihal ayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *