My Father is My Mom 3

Diposting pada
 cerpen tentang orang tua dan anak
cerpen tentang orang tua dan anak

 

Cerita Tiga

“dia yang selalu mengerti”

 

Kumpulan cerpen orang tua dan anaknya- Menimbulkan masalah membuat Alisa takut pulang kerumah, ia pun sudah berkeliling jalan dan memikirkan harus bagaimana mengatakan pada ayahnya. Karena Alisa tak ingin membuat masalah yang akan membuat Ali ayahnya khawatir dan akan mencemaskannya, itu akan membuat Alisa merasa bersalah telah menyusahkan ayahnya selama ini.

Rumah sakit..

Sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam Ali selalu bekerja dengan baik dan bersikap ramah pada semua pasiennya, dengan wajahnya yang tampan dan masih muda Ali juga sangat disenangi oleh pasien dan juga semua staf di rumah sakit tempat ia bekerja. Tak sedikit yang menyukai Ali dan mau menjadi ibu bagi Alisa tapi Ali masih belum mau membuka hatinya untuk wanita lain, dan ia selalu merasa jika dirinya masih sanggup merawat Alisa sendiri tanpa bantuan seorang ibu dikehidupannya. Rasa trauma didalam hatinya membuat Ali sama sekali belum berfikir untuk membuka hati bagi wanita lain setelah kehilangan ibu Alisa.

Ali juga sangat dekat dengan rekan dokter yang bernama Risma, bahkan banyak rumor yang beredar jika mereka mempunyai hubungan spesial tapi Ali dan Risma tak pernah memperdulikan rumor tersebut dan tetap bersikap seperti biasa seperti tidak terjadi apapun.

Risma memang telah lama mengenal Ali, ia juga sangat mengetahui masa lalu Ali sebelumnya. Dan sebagai seorang teman Risma hanya memberi dukungan dan semangat untuk Ali, karena ia tahu apa yang di alami Ali sangatlah berat dan penuh dengan ujian. Risma menemui Ali untuk sekerdar berbincang di jam makan siang ini.”sendirian Li”. Kata Risma

Baca Juga : cerpen orang tua dan anak “My Father is My Mom” Episode 2

“engga berdua kok”. Jawabnya

“berdua, lah yang satu mana”.

“yang satu kamu lah”. Ali meledek Risma

“wah ngerjain kamu”. Risma duduk disamping Ali

Ali tertawa melihat ekspresi Risma yang terlihat begitu panik setelah mendengar ledekannya, sejak mengenal Risma selama ini Ali merasa sangat nyaman dan merasa dipedulikan oleh sahabatnya itu. Bahkan disaat-saat tersulit pun Risma selalu ada untuk Ali, berkat Risma pun ia bisa mengurus Alisa dengan baik  karena bantuannya. Walaupun Ali sering mendengar kabar bahwa Risma menyukainya itu tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang justru Ali khawatir dengan sahabatnya itu, diusiannya yang sudah hampir 30 tahun ia masih sendiri dan belum ada tanda jika memiliki calon pendamping hidup.”Ris”. panggil Ali

“hmmmm, ada apa Li”. Jawab Risma

“pacar amu siapa sih”? Tanya Ali yang membuat Risma sedikit salting

“apaan sih kamu”.

“ya aku penasaran aja Ris, sejak kita kenal aku itu nggak pernah liat kamu cerita masalah pacar. Bahkan saat aku menikah sampai aku cerai dan sampai aku punya anak pun kamu belum ada pendamping, usia kamu kan udah nggak muda lagi Ris”.

“Ali, kamu itu menikah Cuma enam bulan kan. itu kan nggak lama kenapa dibanding-bandingin sama aku. Lagian kalopun aku punya pacar emang harus ya bilang-bilang sama kamu”. Risma sedikit kesal

“iya iya maafin aku ya, aku Cuma pengen tau aja kok Ris. Lagian aku ini kan temen kamu jadi aku harap kamu jangan sungkan untuk cerita sama aku, aku akan selalu ada buat kamu seperti kamu yang selalu ada buat aku”.

Risma tersenyum malu

“atau jangan-jangan gosip kalo kamu suka sama aku itu bener ya, ya wajar sih aku kan emang ganteng walaupun aku duda tapi wajah dan umur aku masih seperti artis korea kan”.

“narsis”. Risma pergi meniggalkan Ali

Sejak pertama pertemanan mereka Ali memang sering mengejek Risma, karena Ali dan Risma berteman sejak mereka duduk dibangku SMP. Dan Risma pun sangat mengenal sosok wanita yang dulu dinikahi oleh Ali saat usia mereka masih muda dan mereka pun bercerai setelah usia perkawinan mereka enam bulan dimana saat itu Alisa baru dilahirkan. Biarpun Ali memiliki masa lalu yang kelam tapi Risma dengan sangat setia menemaninya hingga saat ini, karena itulah gosip tentang perasaannya kepada Ali tersebar.

Saat ­Ali sedang menikmati jam istirahatnya ia selalu teringat dengan Alisa, baginya Alisa adalah sesuatu yang tak pernah lepas dari pikirannya. Bahkan ia selalu ingin bisa menemani Alisa kapanpun tanpa ia sadari sekarang anaknya telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan Ali selalu berharap jika Alisa akan selalu bercerita tentang apapun yang terjadi padanya, walaupun Ali sadar banyak hal yang Alisa sembunyikan darinya.

Secangkir kopi diteguknya hanya saat-saat seperti ini tertentu ia bisa santai untuk meregangkan otot-ototnya yang lelah, sudah lama menjadi dokter membuat Ali sangat menikmati posisinya saat ini. tiba-tiba saja seseorang menepuk pundang Ali.”mas”. katanya

“Haris, ngapain disini”. Tanya Ali

“nganter temen mas, oh ya mas Ali udah denger belum soal Alisa”. Spontan membuat Ali tercengang

“Alisa, ada apa dengannya”?

“jadi Fajar belum ngomong ya ke mas”.

“Fajar, ada apa sebenarnya Ris”.

“tadi Fajar sih Cuma bilang, katanya Alisa dapet masalah tapi jangan bilang ke mas Ali dulu. Dia bilang gitu”. Tanpa sadar Haris mengatkannya pada Ali

“biar aku tanya Fajar”.

Ali pergi untuk menelfon Fajar, ia khawatir masalah apa yang menimpa Alisa putrinya. Ia sadar bahwa Alisa sudah mulai pintar menembunyikan rahasia darinya, belum lagi Alisa tidak bisa dihubungi membuat Ali makin cemas kebingungan. Ia pun menelfon Fajar untuk menayakan perihal Alisa, karena Fajar pasti tahu apa yang terjadi disekolah pada Alisa.

Telfon…

“Hallo, Assalamualaikum”. Kata Fajar

“Waalaikumsalam, Fajar ini mas Ali”.

“iya mas”.

“tadi kata Haris, Alisa kena masalah. Ada masalah apa dengan Alisa”? Ali cemas

“aduhh mas Haris, kan aku udah bilang jangan kasih tahu mas Ali. Emang salah kalo ngomong sama dia”. Batin Fajar merasa menyesal.”Fajar Cuma dengar itu mas”.

“kamu jangan bohng Fajar, Alisa mana”! Bentak Ali

“dia belum pulang mas”.

“belum pulang, kemana dia jam segini. Ya udah sampai rumah jelasin semua sama mas”.

Dengan posisi khawatir Ali memutus telfonnya, ia mencoba menghubungi Alisa tapi tidak dijawab olehnya, apalagi sampai sekarang Alisa juga belum pulang kerumah membuat Ali makin cemas dan bingung harus bagaimana. Ali kembali melanjutkan perkerjaannya, ia tetap harus tenang agar semua pasiennya dapat ditangani dengan baik tanpa ada kesalahan apapun karena suasana hatinya yang sedang tidak baik hari ini.

Waktu pukul 16.00 Ali meminta izin untuk pulang lebih cepat karena ada hal penting yang harus dilakukannya, ia pun langsung pulang kerumah dan berharap Alisa sudah pulang. Ali berusaha menghubungi Alisa tapi masih belum ada jawaban darinya membuat hati Ali diselimuti rasa cemas, apa yang sebenarnya terjadi dengan Alisa anaknya.

—-

Dirumah..

Ali masuk kerumah dan hanya mendapati Fajar yang sedang berbaring disofa rumah, Ali sempat menayakan hal yang sama yaitu masalah apa yang sedang dihadapi Alisa. Fajar pun menceritakan apa yang dia tahu walaupun dengan rasa bersalah karena secara tidak langsung Fajar terlibat dalam masalh ini tapi ia tidak bisa berbohong pada Ali, setelah mendengarnya Alipun hanya tersenyum dan tidak marah sedikitpun pada Fajar.”jadi Cuma gara-gara masalah kamu, jadi pacar kamu mengira jika Alisa itu penyebab masalah diantara kalian”. Kata Ali sambil tertawa

“mantan mas, dia bukan pacar aku lagi”. Kata Fajar judes

“iya terserah lah, yang penting mas udah tahu apa yang terjadi tapi kenapa Alisa belum pulang”.

“entah, aku tidak tahu”. Jawabnya singkat

“udah tahu belum pulang tapi kamu masih santai disini dan tidak mencari dia”.

“baiklah, aku akan menunggunya”.

Ali hanya melihat dengan tatapan penuh tanya

“iya mas, aku yang akan mencarinya. Aku pergi”.

Saat Fajar akan melangkahkan kakinya untuk mencari Alisa, seseorang membuka pintu dan ternyata itu seseorang yang sedari tadi dicari. Mereka bernafas lega karena Alisa pulang dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun, Ali menghampiri putrinya yang terlihat sangat merasa tertekan dan kebingungan itu.”ada apa, kenapa baru pulang”? Kata Ali memeluk putrinya.”ayah khawatir Alisa”.

“maafin Alisa yah”. Kata Alisa menyesal.”yah, ada yang mau Alisa omongin. Tapi sebelumnya Alisa minta maaf karena sudah mengecewakan ayah, Alisa nggak bermaksud buat ayah kecewa. Alisa juga nggak berniat untuk menyebabkan masalah tapi ini bener-bener diluar kendali Alisa dan Alisa nggak sengaja ngelakuin itu yah, dan Alisa mohon banget sama ayah jangan marah atau kecewa sama Alisa. Alisa sama sekali nggak bermaksud untuk seperti itu, ini terjadi begitu saja. Bagaimana ya menjelaskannya sama ayah, tapi intinya Alisa nggak sengaja yah. Gimana ya..”? Kata Alisa yang berusaha menjelaskan tapi berputar-putar

“ayah tau, jangan khawatir”.

“ayah tahu, gimana mungkin ayah tahu atau mungkin paman Fajar yang..”. Alisa melirik kearah Fajar

Tatapan Alisa membuat Fajar salting dan mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain, ia pun berusaha menghindar.”ah haus, sepertinya aku butuh minum”. Fajar kearah daput dan berbalik melihat Alisa.”jangan panggil aku paman, tadi aku mendengarnya”.

Alisa sangat kesal karena Fajar mengadukannya apada Ayahnya padahal masalah ini terjadi karena Fajar juga, Ali hanya tersenyum melihat kelakukan anaknya dan juga adiknya yang masih begitu seperti anak-anak. Ia sama sekali tak marah ataupun terlihat kecewa pada Alisa, justru hal seperti ini yang membuat Alisa merasa bersalah jika ia selalu menyebabkan masalah. Karena Ali tak pernah sekalipun memarahinya, sesekali ia berfikir untuk membuat ayahnya marah tapi tidak pernah berhasil karena pasti Ali selalu tersenym setiap kali Alisa membuat masalah. Alisa selalu merasa sangat bersyukur memiliki ayah seperti Ali, walaupun tidak pernah Ali menceritakan sedikitpun mengenai ibunya tapi Alisa menemukan sosok ibu pada diri Ali dan walaupun ia hanya memiliki ayah tapi rasanya itu sudah lebih dari cukup untunya, sebab Ali adalah sosok ayah dan juga ibu untunya. Alisa pun memeluk ayahnya dengan erat sebagai tanda rasa syukurnya telah mempunyai ayah dan ibu seperti Ali.”maafin Alisa ya yah, Alisa selalu saja buat masalah untuk ayah”. Kata Alisa

“kamu nggak pernah buat masalah untuk ayah sayang, justru karena kamu ayah sangat bahagia dan merasa beruntung. Tidak sedikitpun ayah merasa kamu membua masalah untuk ayah, yang harus kamu tahu bahwa kehadiran kamu adalah nikmat Alloh yang begitu besar untuk ayah. Jadi kalau Alisa tidak mau buat ayah khawatir jangan memendam masalah sendiri ya, Alisa harus cerita semuanya sama ayah dan ayah akan jadi superheronya Alisa disaat-saat Alisa sedang kesusahan, karena Alisa tahu kenapa”.

“kenapa”?

“karena Alisa adalah anak ayah dan Alisa adalah hal yang sangat sangat berharga untuk ayah”.

“sangat”.

“iya, sangat sangat sangat berharga”.

Alisa memeluk ayahnya dengan bahagia, ia benar-benar bahagia dan bersyukur telah lahir menjadi anak Ali yang begitu menyayanginya.

Ibu… aku Alisa, aku adalah anak ibu. Aku tumbuh menjadi gadis yang pintar, aku juga sangat cantik, ini semua karena ayah merawatku dengan baik kan ibu. Dimana pun kamu berada semoga ibu selalu selalu sehat. Aku tidak pernah membencimu karena meninggalkanku, aku sungguh berterimakasih padamu telah melahirkanku kedunia ini. aku sungguh sangat bersyukur sekarang dan aku begitu bahagia ibu, walaupun aku tidak pernah melihatmu dan tidak mengetahui mu aku selalu berdoa untuk kebaikan mu ibu. Jadi aku mohon jangan pernah kembali ke kehidupanku dan ayah karena aku akan sangat sedih jika mengetahui ibu. Bagiku sekarang hanya ayah yang aku butuhkan, hanya ayah yang aku inginkan. Aku tidak menginginkan hal lain ibu selain ayah disisiku, karena ayahku adalah ibu buatku. Berbahagialah ibu dan selamat tinggal…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *