I’m Sorry 3

Diposting pada

Bagian Tiga

“Tentang Rasa”

 

Memang kurang umum jika seorang mahasiswa sudah menikah, mungkin satu banding seratus. Tapi itu tidak membuat Fahmi dan Rahma minder dari anak-anak yang lainnya, itu justru membuat mereka berbeda dari yang lain.

Mulai hari ini Rahma tidak seperti biasanya, bangun tidur iya benar-benar melihat orang lain disampingnya, tiba-tiba ia tersenyum malu melihat orang itu masih tertidur pulas ia mengusap wajah suaminya itu lalu memibisikan sesuatu ketelinga suaminya.”sholat subuh dulu sa…”. iya masih canggung mengucapkannya.

“sayang”. Tiba-tiba saja Fahmi bangun mengagetkan Rahma.”coba ucapkan sekali lagi, sayang”. Ucap Fahmi lagi membuat Rahma tersenyum malu.”kenapa, emang susah Cuma bilang sayang”.

“udah yuk sholat”. Rahma mengubah topik pembicaraan dan langsung pergi untuk mengambil wudhu.

Untuk pertama kalinya Fahmi dan Rahma sholat subuh berjamaah, lalu dalam hati Rahma berdoa, “ya Alloh, aku telah memilihnya menjadi suamiku. Aku berharap semoga kebahagiaanku tidak sampai disini semoga kelak kita dapat bertemu kembali disyurgamu ya Alloh. Amin”. Tanpa disadari Fahmi berada didepannya sambil memandangi Rahma.”kamu berdoa apa”? tanya Fahmi

“emang harus ya aku kasih tahu doaku”. Ledek Rahma.

“harus dong aku kan suami kamu, kamu lupa ya kita udah nikah”.

“rahasia, doanya Cuma Alloh SWT yang tau”. Jawabnya sambil menjewer telinga Fahmi, dan membuat Fahmi berteriak kesakitan.”sakit ya, maaf maaf”. Rahma menyesal

“engga ko aku suka, tau nggak semakin aku dekat sama kamu, semakin lama aku bareng sama kamu, aku mulai sadar kalo kamu emang yang terbaik buat aku dan kamu cantik”. Fahmi merayu Rahma.

“hmmm kita kan belum lama mas… upss”. Rahma keceplosan

Fahmi memeluk Rahma. “aku suka sama kamu, suka sama semua yang ada didalam diri kamu sayang. Terimakasih ya sudah menjadi bagian dari hidupku”.

“aku juga bahagia, sangat bahagia bahkan. Aku juga terimakasih mas Fahmi”. Batin Rahma.

Tak akan ada yang pernah tau kapan kita bertemu dengan seseorang yang menjadi jodoh kita, karena kita tak tahu, berarti kita harus mencari tahu kalaupun sudah mencari tahu itu tentu kita harus berusaha yang diiringi dengan doa.

Mungkin Rahma tak pernah menyangka jika sesorang yang menjadi jodohnya adalah Fahmi, ia pun tau bahwa sebelum menjadi suaminya ia sudah menaruh rasa yang lain dalam hatinya pada saat pertemuan pertamanya dengan Fahmi.

Sebelum pergi kekampus Rahma menyiapkan sarapan untuk suaminya, ia memasak nasi goreng dan telur ceplok karena dirasa cukup praktis untuk sarapan pagi tak lupa ia mengupas buah untuk pencuci mulut. Walaupun tinggal dirumah kontrakan yang tak terlalu besar bukan membuat cintanya runtuh ataupun menyesal menikah dengannya, justru ia senang bisa menemani Fahmi dari sekarang. Tak lama Fahmi keluar dari kamar, ia tersenyum lebar melihat kearah dapur.”sarapan dulu”. Kata Rahma

“jadi seperti ini ya punya istri”. Ledek Fahmi

“maksudnya”?????

“engga engga, kamu cantik”. Fahmi kembali meledek Rahma, iya pun duduk dimeja makan dan langsung mencicipi masakannya, kemudian memasang wajah heran.

“kenapa? nggak enak ya, keasinan ya, atau hambar”. Rahma panik

“enak, enak banget. Terimakasih ya sayang”. Tersenyum kearahnya.

Setelah selesai makan Fahmi dan Rahma pergi kekampus bersama, karena untuk pertama kalinya maka ini sangat berbeda, Fahmi membersihkan sepeda motornya terutama bagian belakang karena akan diguankan duduk oleh istrinya. Saat Rahma keluar dan melihat tingkah Fahmi ia lagi-lagi tersenyum bahagia lalu pura tak melihat, ia bersembunyi dibalik dinding tiang rumahnya.”yok, kita berangkat”. Ajak Rahma

Fahmi tersenyum malu kearahnya.”oke, ini kamu pake helm”. Fahmi memberikan helm dan terdapat tulisam istri orang. Sontak membuat Rahma tersenyum-senyum sendiri.

Kampus……

Sekitar 15 menit mereka pun sampai dikampus, orang-orang memandang mereka dengan tatapan yang beragam ada yang melihat sinis, ada yang heran, dan ada juga yang kagum dan tak sedikit juga yang iri melihat kebersamaan mereka. Rahma turun dari motor kemudian mencium tangan suaminya Fahmi, melihat istrinya Fahmi pun membalas dengan mencium kening Rahma. Sontak membuatnya kaget.”mas, ini dikampus”. Kata Rahma

“kenapa, kamu kan istriku. Emang salah”. Ledeknya

“udah ah, aku kekelas dulu ya”. Rahma langsung pergi karena salah tingkah, Fahmi pun mengejar Rahma dan menarik tangannya.”kenapa lagi”?

“nanti pulang kuliah aku harus kerja, kamu pulang sama sama Putri nggak papa kan”.

“iya nggak papa ko, nanti aku pulang bareng dia”.

“inget ya, hati-hati”. Pesan Fahmi

“iya, aku kan bukan anak kecil lagi. Pulang sendiri aku juga bisa ko”.

“maksud aku hati-hati jangan deket sama cowok lain, nanti aku marah loh”.

Rahma tertawa.”iya iya, aku paham ko. Kamu hati-hati ya pulang kerja langsung pulang, dirumah ada yang nungguin”.

“iya, aku tau ko. Kamu kan nggak bisa jauh-jauh dari aku kan”. Ledek Fahmi lalu mencium kening Rahma.”ayo aku anter kekelas”. Menarik tangannya membuat Rahma tersenyum tersipu.

Fahmi pun mengantar sampai kelas Rahma, ia tak ada bosannya terus memandang wajah istrinya. Rahma sempat menegurnya karena dilihat oleh banyak orang namun ia tak mendengarkannya.”apaan sih aku malu tau”. Kata Rahma

“kenapa sih, kamu kan istri aku. Kenapa malu sayang”.

“udah ah, aku masuk dulu”. Rahma pergi masuk kekelas akan tetapi Fahmi masih terus memandanginya sampai Rahma duduk disamping temannya Purti. Kemudian Fahmi melambaikan tangan dan pergi kekelasnya.

“cie, yang pengantin baru. Seneng nih yang udah ada pendamping”.

“apaan sih put, kalo kamu mau tuh gampang, nikah aja”.

“dih, Ma mau nikah sama siapa. Aku kan nggak punya pacar dan nggak ada yang suka”.

“kamu ini, tuh loh si Amir dia kan suka banget sama kamu, tapi kamunya malah nolak terus. Salah siapa? Jangan ngeles nggak ada yang suka deh”.

“iya kali, dia tuh engga banget. Bukan tipe ku. Udah ah nggak usah dibahas nggak bakal menang ngomong sama kamu”.

Hari itu tidak ada yang berbeda saat kuliah, dosen dateng menjelaskan, ngasih tugas, lalu udah deh pergi. Putri dan Rahma sepeti biasa setelah kuliah selesai mereka pergi keperpus untuk menunggu jadwal kuliah berikutnya.

Sebelum masuk kekelas berikutnya mereka pergi kekantin untuk makan siang, jalan menuju kantin serasa ada yang berbeda dengan Rahma, ia merasa semua orang melihat kearahnya dan tak seperti biasannya mereka seperti membicarakan Rahma tapi Putri dan Rahma tak memperdulikan mereka tetap jalan menuju kantin. Tak lama tiba-tiba aja seorang perempuan menghampiri Rahma dan langsung mendorongnya.”astagfiruloh”. kata Rahma

Dengan sigap Putri langsung mendorong balik si perempuan tersebut, hampir saja mereka bertengkar namun Rahma menghalanginya.”udah-udah ayo Put”. Menarik tangan Putri dan berjalan menuju kantin. Putri masih terbawa emosi dan marah-marah kenapa Rahma menarik tangannya. Sampai dikantin pun Putri masih kesal Rahma berusaha menenangkannya namun Putri tetap saja masih kesal.”udah Put, aku nggak papa ko”. Kata Rahma

“harusnya kamu jangan kayak gitu Ma, dia itu udah tiba-tiba nyerang kamu. Tentu aku nggak terima”! Suara keras

“makasih Put udah belain aku”. Rahma memeluk sahabatnya itu.”aku beruntung banget punya kamu, sekali lagi “maksih ya, udah belain aku. tapi udah lah nggak papa ko, Put”.

“iya Ma, tapi dia itu siapa. Kamu kenal sama dia”. Tanya Putri

“engga aku nggak kenal siapa dia, aku aja baru tau dia tadi”.

“terus kenapa dia nyerang kamu, kayaknya ada yang nggak beres deh”.

Masih dalam kebingungan Putri dan Rahma, kenapa wanita itu tiba-tiba aja menyerang Rahma. Karena tidak mungkin banjir kalo nggak ada air. Masih membicarakan kejadian tadi dan sempat membuat kehebohan kampus itu terdengar sampai telinga Fahmi, temanya dari jauh berlari mendatangi Fahmi. Fahmi yang sedang didepan leptop pun sempat kaget.”Fahmi, istri kamu”.

“kenapa Rahma”? Jawab Fahmi khawatir.

“tadi si Bela ngelabrak istri kamu”.

Mendengar kata Bela, Fahmi keluar mencari Rahma. Ia berusaha menguhubunginya namun tak ada jawaban. Fahmi pun kesana kemari mencari istrinya, sampai ia melihat dikantin istrinya sedang bersama Putri.”kamu nggak papa kan”? Tanya Fahmi khawatir

“Fahmi, aku nggak papa ko. Kamu ngapain disini”. Tanya Rahma balik

“aku tadi denger dari Rio kalo Bela ngelabrak kamu, apa itu bener”.

“Bela, jadi kamu kenal”. Kata Rahma

“eh Fahmi, aku udah curiga ini pasti ada hubungannya sama kamu. Siapa dia, kenapa dia kayak gini sama Rahma”. Sambung Putri

“nanti aku jelasin, aku pergi dulu”.

“Fahmi, udah”. Rahma menarik tangan Fahmi.”aku nggak papa ko, nggak usah dibesar-besarin”.

“tunggu Ma, aku tanya sama Fahmi, dia siapa? Jawab Fahmi”. Bentak Putri

“udah Put, aku nggak mau ini dibahas. Udah ya, yuuk kita kekelas”. Mengajak Putri.”udah ya mas, aku kekelas dulu. Udah kamu nggak usah mempermasalahkan lagi, aku pergi dulu. Assalamualaikum”.

Walaupun megatakan tak apa, tapi Rahma yakin kalau semua ini ada hubungannya sama Fahmi, belum genap satu bulan pernikahan mereka tapi sudah ada masalah yang disembunyikan suaminya. Biarpun begitu Rahma mencoba percaya pada Fahmi dan tak akan menanyakan apapun sampai ia mau menceritakan semuanya.

Dirumah Rahma langsung melemparkan badanya dikasur, iya masih memikirkan kejadian tadi siang dikampus.”ada hubungan apa yah sama mas Fahmi,atau jangan-jangan dia pacarnya mas Fahmi. Nggak-nggak aku nggak boleh berfikiran seperti itu, dia kan udah jadi suami aku mana mungkin punya pacar, nggak mungkin”. Batin Rahma

Sambil menunggu suaminya pulang kerja, Rahma membereskan rumah, mencuci pakaian, menyapu depan rumah, dan menjelang isa ia menyiapkan makan malam untuk Fahmi. Ia pun memasak capcay dan telur dadar, semoga menu sederhana ini bisa mengobati lelah suaminya. Selesai menyiapkan masakan Rahma mengirimkan pesan singkat pada Fahmi.

To : Suamiku..

Udah dimana?..

To : Istriku…

Kenapa???

Udah kangen ya….

To : Suami..

????????

To : Istri…

Iyain aja sih..

To : Suami..

Udah dimana?

To : Istri…

Dijalan.

To : Suami..

Aku tunggu dirumah. 😊

Mengetahui suaminya sudah mau pulang, Rahma bergegas kekamar dan mulai merias wajahnya. “Ya Alloh sebagaimana kau teah membaguskan wajahku maka baguskanlah budipekertiku. Amin”.

Tak sampai 10 menit Fahri pun sampai dirumah, mendengar motor suaminya Rahma berlari membukakan pintu rumah. Belum juga masuk sampai rumah Rahma sudah menyambutnya.”Waalaikumsalam”. Ledek Rahma

“Assallamualaikum”. Kata Fahri mencium kening istrinya.

“Waalaikumsalam, yuuk masuk mas. Aku udah siapin makan malem buat kamu”.

“waaaah istriku emang yang paling oke”.

Rahmapun menyiapkan piring, lalu mengambilkan lauk pauk yang sudah dimasaknya. Tak menunggu lama Fahmi langsung menyantap makanan yang sudah rahma berikan, tak henti-hentinya Fahmi memuji masakan istrinya. Hari ini sunggu hari yang tak terduga untuk mereka walaupun banyak kejadian yang mungkin membuat mereka saling tak enak namun masalah tidak membuat mereka untuk saling bertengkar, karena Fahmi dan Rahma sudah saling percaya satu sama lain. kepercayaanlah yang membuat pernikahan akan selalu harmonis, saling menghargai akan membuat mereka saling mengerti tentang kekurangan pasangan kita, karena apa yang kita tanam hari ini itulah yang kita petik nanti dimasa depan.

2 thoughts on “I’m Sorry 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *