I’m Sorry 17

Diposting pada

novel romantis terbaru

 

Bagian Tujuhbelas

“pesta perayaan”

 

Rahma mengetuk pintu kamarnya dan ia pun masuk untuk menemui Fahmi, untuk pertama kalinya ia melihat suaminya begitu diam dihadapannya. Ia menghampiri Fahmi yang sedang duduk lesu dikursi kamarnya, Rahma memeluk suaminya dan tanpa sadar air matanya mulai menetes membasahi baju Fahmi yang sudah rapih.

Fahmi pun berbalik memeluk Rahma dengan erat seakan tidak ingin berpisah dengannya, ia terlihat begitu sedih hari ini. Ia terus memeluk Rahma seakan meminta pertolongan agar Rahma membatalkan apa yang akan terjadi hari ini, Fahmi sangat merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini dan ia juga yakin bahwa apa yang dirasakannya mungkin sama seperti apa yang dirasakan pada Rahma. Ia menatap wajah istrinya yang mungkin sedang berpura-pura bahwa ini akan baik-baik saja, ia menghapus air matanya dengan lembut.”apa ada hal yang ingin kamu tanyakan”. Tanya Fahmi

“enggak kok mas”. Jawab Rahma

“kenapa”?

Rahma menatap Fahmi.”karena ini memang harus mas”.

“sayang, aku akan lebih baik jika kamu meminta untuk aku meninggalkan Lisa dan pergi jauh bersama kamu dan Ismail. Jika kamu meminta itu akan aku lakukan sayang, aku Cuma mau kamu”.

“Lisa sedang hamil mas, sungguh sangat kejam jika aku meminta kamu untuk meninggalkan dia. Dan aku juga yakin jika kamu tidak akan tega melakukannya, biar bagaimana pun anak yang sedang dikandungnya itu anak kamu mas”.

Fahmi terdiam

“dan aku sadar kalo aku ini nggak bisa kasih kamu keturunan..”.

Jari Fahmi menutup lisan Rahma.”jangan salahkan diri kamu sayang, karena apa yang terjadi saat ini itu kesalahan aku. Kamu nggak salah, aku yang salah dan aku minta maaf sama kamu tentang semuanya”.

Fahmi menyadari jika apa yang terjadi saat ini adalah kesalahan yang telah dibuatnya, ia begitu menyesal telah menyakiti hati wanita yang sangat ia cintai hanya karena masalah anak dengan tega ia menduakan istri yang begitu ia hargai.

Dan sekarang Fahmi harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat, walaupun itu menyakiti istrinya namun ia tidak bisa menolak apa yang telah diminta oleh Rahma untuk memperkenalkan Lisa dihadapan banyak orang jika ia adalah istrinya yang sah dan bukan sebagai seorang wanita simpanannya. Semua itu Rahma lakukan hanya tidak ingin jika anak mereka saling bermusuhan dan membenci satu sama lain, dan ia juga tidak tega melihat keadaan Lisa yang sedang mengandung anak Fahmi.

Pesta pernikahan Fahmi dan Lisa……

Pukul sembilan pagi acara akan dimulai, satu persatu tamu mulai berdatangan memberikan selamat untuk Fahmi dan Lisa. Dan tidak sedikit tamu yang memberikan komentar tentang Fahmi yang mendukan cintanya, namun semua itu Rahma telah menelannya dalam-dalam tanpa ia pedulikan, baginya saat ini adalah anak yang ada diperut Fahmi mendapat pengakuan dari semua orang.

Saat acara berlangsung pandagan Fahmi tidak lepas dari melihat wajah istrinya Rahma, ia terus melihat kearahnya bahkan saat ia bersama dengan Lisa menyapa para tamu undangan. Rahma yang terlihat tegar pun melihat kearah suaminya yang terus saja melihat kearahnya, namun senyuman Rahma saat itu menandakan suatu arti yang tidak banyak diketahui. Ia tersenyum pada Fahmi dan saat ia lengah Rahma sudah tidak ada dihadapannya, Fahmi pun melihat kesana kemari untuk memastikan posisi Rahma tapi tidak ia temukan dimana istrinya itu.”aku pergi dulu ya”. Kata Fahmi pada Lisa yang ada disampingnya.

Lisa menarik tangan Fahmi.”mau kemana sih, mas nggak lihat ada banyak tamu disini”.

“aku harus mencari Rahma”.

“aduh paling Rahma juga nggak jauh kok dari sini”.

“aku mau cari Rahma”. Fahmi dengan paksa menarik tangannya dari genggaman Lisa

Fahmi mencari Rahma dari tempat ke tempat, ia bahkan mencari sampai keseluruh ruangan namun ia tidak menemukan Rahma dan Rahma pun tidak menjawab panggilannya. Dan pada saat ia melihat Ismail bersama kedua orangtua Rahma, Fahmi merasa bersalah pada kedua orangtua istrinya itu karena telah menyakiti hati anaknya. Dengan melangkah perlahan Fahmi menghampiri mertuanya dan ingin mengucapkan permintaan maaf tentang apa yang sudah terjadi saat ini, belum sampai Fahmi sudah menangis bersalah.”Abi.. Umi”. Panggil Fahmi lemas.”maafin Fahmi abi, Fahmi salah, Fahmi udah menyakiti hati Rahma, maafin Fahmi yang sudah tidak menepati janji”. Fahmi duduk memohon pada mertuanya

“sudah Fahmi sudah jangan seperti ini”. Abi membantu Fahmi bangun

“Fahmi salah Abi, maafin Fahmi”.

“sudah Fahmi, Abi tahu kamu tidak bermaksud untuk menyakiti anak Abi. Sudah abi dan umi sudah memaafkan kamu”.

“Fahmi sangat menyesal”. Ucapnya lagi

“iya iya abi tahu, yang harus kamu lakukan saat ini hanya bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat. Jangan terus menyalahkan diri kamu, karena semua sudah berlalu maka sekarang kita hanya tinggal menjalaninya”.

“papah”. Pangggil Ismail yang menangis

Fahmi menggendong anaknya dan menciumnya, ia tahu jika kesalahannya ini juga berimbas pada Ismail anaknya.”maafin papah ya sayang”. Ismail langsung memeluk papahnya dan menangis dipelukannya

“papah… mamah pah”.

Fahmi terkejut saat Ismail memanggil mamahnya seperti ada sesuatu yang terjadi pada Rahma.”ada apa sayang, mamah kenapa”?

Ismail terus menangis memanggil-manggil Rahma tanpa henti, saat itu Fahmi tahu pasti ada sesuatu yang terjadi pada Rahma tanpa sepengetahuan darinya.

Fahmi melihat sekeliling namun ia lagi-lagi tidak menemukan Rahma, ia berfikir mungkin apa yang dilakukannya adalah salah dan justru itu sangat membuat hati Rahma hancur sehingga ia pergi dari acara ini..

Bandara Internasional…..

Rahma duduk disalah satu ruang tunggu bandara, ia masih menggunakan pakaian yang dipakainya saat menghadiri pesta perayaan pernikahan Fahmi dan Lisa, air mata nya terus saja menetas setiap mengingat mereka. Entah apa yang terjadi namun air mata itu tidak mau berhenti dan terus membanjiri wajah Rahma, padahal secara ikhlas ia telah menerima apa yang sudah terjadi pada keluarganya namun ia tidak bisa membohongi perasaannya jika hatinya begitu terluka melihat laki-laki yang sangat ia cintai harus bersanding dengan wanita lain yaitu Lisa.

Hari ini Rahma memutuskan untuk pergi ke tempat dimana ia ingin menenangkan dirinya dari pelik masalah yang sedang dihadapinya dan ia juga berharap dengan kepergiannya kali ini bisa membuat dirinya menjadi sosok wanita yang lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan selanjutnya, dan Rahma ingin membuka sesuatu yang telah lama ia tinggalkan dinegara tersebut.

Panggilan telfon dari Fahmi yang terus menerus berdering membuat Rahma tahu bahwa suaminya menyadari kepergiannya, namun ia tidak bisa menerima karena takut akan membuat Fahmi tidak fokus pada Lisa dihari perayaan pernikahannya. Didalam hati Rahma ia sangat ingin memberitahu Fahmi namun ia tidak bisa, karena Rahma yakin jika Fahmi tahu keberadaannya maka ia akan dengan cepat menyusulnya tanpa memperdulikan apapun.

Rahma kembali diam menuggu pesawat yang akan membawanya, saat sedang duduk terdiam seseorang ibu membawa anaknya duduk disamping Rahma. Ia begitu gemas melihat anak disampingnya, membuatnya teringat pada Ismail waktu kecil dulu.”namanya siapa”. Tanya Rahma meledek bayi itu

“Putri tante”. Jawab ibunya

“anak keberapa bu”. Tanya Rahma pada ibunya

“anak pertama”.

“oh iya cantik sekali, seperti ibunya”.

“ibu bisa aja, sudah lama saya menunggu Putri ini lahir. Alhamdulilah setelah 13 tahun menikah kami baru diberi Putri, ibu sudah punya anak”. Ceritanya pada Rahma

“sudah, namanya Ismail. Oh sebentar”. Rahma mencarikan foto Ismail diponselnya.”ini anak saya”.

“waah tampan sekali, pasti mirip dengan ayahnya”.

“iya, ia sangat tampan seperti ayahnya”. Jawab Rahma lemas

Rahma kembali diam dan menunggu keberangkatannya, ia mendadak sedih saat teringat Ismail. Ia merasa sangat merindukannya walaupun baru beberapa jam meninggalkannya bersama kedua orangtuanya, membuat hati Rahma merasa bersalah telah pergi tanpa membawa Ismail.

Tempat Perayaan Pernikahan…….

Lisa begitu kesal melihat Fahmi yang sama sekali tidak peduli dengan semua tamu, ia terus saja duduk melamun tanpa memberdulikan dirinya yang sedari tadi memintanya untuk menemani menyapa semua tamu undangan. Wajah muram Fahmi menandakan rasa penyesalan yang sangat dalam, melihat Fahmi yang tidak semangat Ismail mendekati ayahnya dan langsung memeluk Fahmi tentu saja Fahmi langsung tersenyum bahagia dengan tingkah ismail yang begitu menggemaskan.”waaah jagoan papah, sini cium”. Kata Fahmi yang kemudian mencium anaknya

“papah”. Panggil Ismail

“iya, kenapa sayang”. Fahmi berusaha menahan rasa sedihnya

“papah sedih ya”.

“sedih? Enggak kok, papah nggak sedih”.

“papah mikirin mamah ya pah, Ismail juga kok pah”.

“mamah perginya kan nggak lama sayang”. Fahmi berusaha menghibur Ismail

“pah, kita susulin mamah aja. Pasti mamah seneng deh kalo kita dateng kesana”.

Fahmi terdiam memikirkan perkataan Ismail

“pah”. Panggil Ismail.”kita susulin mamah ya”.

“iya sayang, nanti papah pikirin dulu ya”.

“assikkk bener ya pah”.

Tentu saja kedekatan Fahmi dan juga Ismail membuat ada rasa kekesalah dihati Lisa, karena Fahmi melupakan Fatimah dan dirinya yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Wajah bahagia Fahmi saat bersama Ismail sangat berbeda saat ia sedang bersama Fatimah, itu pun membuat kecemburuan dihati Lisa yang menatap Fatimah sedang terus melihat kearah Fahmi dan juga Ismail.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *