I’m Sorry 15

Diposting pada

novel romantis terbaru

 

Bagian Limabelas

“Ismail”

 

Menjelang malam Rahma menghampiri Ismail yang sedang bermain bersama mba Sari, Ismail tersenyum begitu lebarnya seakan-akan tidak ada masalah apapun. Rahma ingin sekali masuk kedalam hati anaknya agar ia tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini, walaupun terlihat baik tapi Rahma yakin hatinya pasti sangat tersakiti dengan semua masalah yang terjadi antara dia dan juga Fahmi. Rahma memeluk Ismail kemudian menangis begitu teringat apa yang telah dialami anaknya, ia begitu merasa bersalah dengan apa yang terjadi dikeluarganya saat ini. Rahma berfikir jika ia selama ini telah bersikap egois dengan menghadapi masalah yang dihadapi, rasa sakit yang dirasakannya membuatnya ia lupa bahwa ada Ismail yang pasti sangat terguncang jika terus menerus mengalami kejadian seperti ini.”mamah kenapa nangis”. Ismail mengusap air mata Rahma yang masih terus mengalir.”apa karena papah ya mah”. Tanya nya lagi

Rahma tersenyum melihat Ismail yang terlihat sangat memperdulikan dirinya.”engga sayang, mamah nggak apa-apa kok”.

“kalo mamah nggak kenapa-kenapa kok nangis”. Ismail memeluk Rahma dengan menahan tangis dan kembali menghapus air mata Rahma.”mamah jangan nangis lagi ya, Ismail nggak apa-apa kok mah. Walaupun Ismail bukan anak kandung mamah tapi Ismail sayang sama mamah dan juga papah, jadi mamah jangan nangis lagi karena Ismail ada disini sama mamah”.

Rahma sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan anaknya, ia tidak menyangka Ismail begitu mengerti tentang semuanya. Ia merasa sudah kalah dengan kekuatan yang dimiliki Ismail, saat hatinya begitu sakit dan tersakiti oleh ayahnya ternyata ialah seseorang yang selalu ada untuknya, seorang anak yang menenangkan hatinya.”Ismail kekamar ya mah”. Kata Ismail

Meskipun begitu Ismail tidak bisa berbohong bahwa ia juga merasa sangat sedih didalam hatinya, begitu ia berbicara dengan Rahma dan melihat senyuman diwajah mamahnya Ismail kekamar dan menangis sendiri. Seperti sudah mengerti dengan apa yang sudah terjadi Ismail sikapnya begitu seperti orang dewasa saat menghadapinya, itu ia lakukan semata-mata tidak ingin menambah kesedihan dihati Rahma. Walaupun kenyataan yang diketahui bahwa ia bukan anak kandung Rahma dan Fahmi tapi Ismail masih sangat bersykur telah menjadi bagian dari keluarga mereka.

Pagi hari yang cerah…

Pagi itu Ismail berangkat sekolah dengan diantar oleh mba Sari, ia terlihat begitu murung pagi ini seakan tidak ingin pergi kesekolah. Ia berjalan dengan menunduk kebawah sampai tidak sadar jika sudah ada Fahmi papahnya didepan sekolah, Ismail terus saja berjalan didepan papahnya. Walaupun ada rasa penyesalan dihati Fahmi melihat tingkah anaknya, tapi ia hanya ingin memperbaiki dari kesalahan yang sudah ia perbuat pada keluarga kecilnya.”Ismail”. Panggil Fahmi namun Ismail tidak mendengarnya.”Ismail”. Panggilnya lagi dan kemudian memeluk Ismail

“papah”. Ismail kaget

“kenapa sayang, kok cemberut gitu sih”.

Ismail kembali diam dan menundukan wajahnya kebawah, seakan ia benar-benar sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi.”Pah”. Kata Ismail

“kenapa sayang, cerita sama papah”.

“Ismail…”. Katanya ragu-ragu

“kenapa, masalah Fatimah ya. Sayang mau dengerin papah nggak”.

“apa pah”.

“Ismail harus tahu, mau bagaimana pun kondisi Ismail, mau Ismail berasal dari mana pun, mau ada orang yang bilang Ismail bukan anak papah sekalipun tapi yang pasti Ismail  harus inget kalo papah sayang sama Ismail karena tahu kenapa”?

“kenapa pah”.

“karena Ismail itu anaknya papah, papah itu papahnya Ismail sampai kapanpun dan papah sangat sangat mencintai Ismail. Ismail ngerti kan apa yang papah bilang”.

“ngerti kok pah”. Ismail masih menyimpan rasa sedihnya

“kenapa lagi kok sedih lagi”. Tanya Fahmi

“pah Ismail boleh minta sesuatu nggak”.

“apa sayang”.

“papah jangan buat mamah nangis lagi ya, Ismail nggak apa-apa kok kalopun papah nggak sayang sama Ismail tapi Ismail sedih kalo papah buat mamah nangis. Ismail nggak bisa liat mamah nangis pah, Ismail jadi ikut sedih. Papah janji ya jangan buat mamah nangis lagi, kalo papah mau pergi sama mamah Fatimah. Ismail akan jagain mamah, karena selama ini mamah nangis dan itu ada hubungannya kan pah sama mamah Fatimah”.

Sejenak Fahmi terdiam mendengar perkataan Ismail, bagaimana mungkin kata-kata itu muncul pada anak sekecil Ismail. Apa mungkin selama ini apa yang dilakukannya benar-benar telah menghancurkan kebahagian kelurganya, ia sungguh tidak sanggup menghadapi semua perbuatannya.”maafin papah ya sayang, papah udah berbuat kesalahan yang sangat besar. Bahkan papah ngerasa nggak pantes dipanggil seorang papah”.

“papah”. Fatimah memanggil Fahmi.”kok papah disini sih”.

Ismail dengan pelan pergi tanpa berpamitan kepada papahnya, ia tidak ingin jika apa yang terjadi kemarin terulang dan pasti ia akan sangat sedih.

Fahmi begitu terpukul melihat Ismail bertingkah seperti ini, ia sangat menyesal telah menyakiti anak yang begitu mencintai mamahnya namun apalah arti sebuah penyesalan karena apa yang terjadi saat ini akibat perbuatan Fahmi sendiri. Yang pasti Fahmi ingin cepat mencari jalan keluar agar pemasalahan ini bisa terselaikan dengan baik tanpa ada pihak yang saling menyakiti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *