I’m Sorry 10

Diposting pada

Bagian Sepuluh

“Kenyataan”

 

Sejak terjadi keributan malam itu, Rahma merasa sangat bersalah dengan apa yang dilakukannya. Memang Fahmi sudah jarang ada waktu dengan keluarga namun ia sadar jika tidak seharusnya ia marah-marah apa lagi sampai terjadi keributan.

Dengan menebus kesalahannya Rahma membuat masakan yang akan diberikan pada Fahmi saat jam makan siang, Rahma mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka. Setelah mengantar Ismail ke sekolah ia langsung ke kantor, tak ada yang aneh hari ini selain rasa semangat untuk menemui Fahmi pada jam makan siang.

Tepat pukul setengah duabelas, Rahma bersiap untuk ke kantor Fahmi mengantarkan makan siang yang sudah ia siapkan. Sengaja ia tak menghubungi Fahmi karena ingin sedikit memberikan kejutan untuk suaminya, dijalan Rahma mencoba memberikan pesan singkat untuk Fahmi untuk sekedar basa basi.

To : Suami

Dimana mas…

To : Istri

Dikantor

To : Suami

Makan siang dimana, jangan lupa makan siang ya.

To : Istri

Makan siang, aku dikantor aja kok. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi nggak sempet keluar, kamu jangan lupa makan siang juga ya ..? :3

 

Rahma sedikit berpura-pura agar nanti harapannya bisa memberikan kejutan untuk Fahmi, tak lama Rahma sampai didepan kantor Fahmi. Ia pun memarkirkan mobilnya namun Rahma melihat Fahmi keluar kantor padahal awalnya ia bilang jika akan makan dikator saja karena masih banyak kerjaan. Rahma sempat turun dan memanggil Fahmi namun ia tak mendengarnya, Rahma pun menghubunginya tapi Fahmi tak menjawab panggilannya. Ia punya inisiatif untuk mengikuti kemana Fahmi pergi.

Dijalan yang dilewati Fahmi Rahma sedikit tidak asing karena pernah mengikuti Fahmi sebelumnya dan kehilangan jejaknya waktu itu, dalam hati dan fikiran Rahma ia merasa aneh dengan tingkah suaminya. Pikiran negatif itu pun muncul dibenaknya, mungkinkah ada sesuatu yang disembunyikan Fahmi darinya mengapa ia berbohong dengan mengatakan akan makan dikantor tapi pada kenyataannya ia pergi keluar.

Sampai Fahmi berhenti disalah satu rumah yang Rahma tak tahu rumah siapa itu, Fahmi masuk seperti itu adalah rumahnya sendiri. Rahma pun menunggu tak jauh dari rumah itu, ia penasaran kenapa suaminya mendatangi rumah itu.

Jam makan siang sudah mulai habis, Fahmi pun keluar rumah dan memakai sepatunya kembali. Rahma lega karena Fahmi keluar sendiri, sampai tiba-tiba suara perempuan memanggil Fahmi dengan sebutan Mas yang makin membuat Rahma tak karuan adalah perempuan itu Lisa yang dulu sempat menjadi calon istri Fahmi. Rahma pun berfikir mengapa suaminya bersama Lisa dan kenapa sepertinya Lisa sedang hamil, tak lama saat Fahmi akan pergi Lisa bersalaman dan mencium tangan Fahmi begitupun Fahmi yang mencium kening Lisa.

Hancur hati Rahma melihat semua yang terjadi didepannya, pecah air mata yang sedari tadi mungkin sedang ditahannya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu, sakit, kecewa, patah hati, mungkin itulah yang sedang ia rasakan saat ini. Suami yang sangat ia cintai dan selalu ia banggakan begitu tega menghianatinya dibekang dengan wanita lain apalagi itu adalah Lisa, Rahma menghentikan mobilnya dan mengangis tersedu-sedu. Ia begitu tersakiti dengan yang dilakukan Fahmi, bayang-bayang kejadian itu begitu jelas di ingatannya.”kenapa kamu seperti ini mas, kenapa”. Kata Rahma sambil memukul stir mobil didepannya.

Suara hp Rahma berdering..

“Hallo Assalamualaikum”. Kata Rahma menahan tangis

“Mamah, Mamah dimana sih. Ismail udah nungguin nih”. Jawab seseorang yang menelfon Rahma yang tak lain adalah Ismail anaknya

“iya sayang, Mamah udah ada dijalan ko”. Dengan melemparan sedikit tawa

“Ismail tunggu ya Mah”. Jawabnya

Rahma tak ingin terlihat sedih didepan Ismail anaknya, ia tak mau jika anak sekecil Ismail memiliki rasa sakit karena Papahnya telah menyakiti Mamahnya. Rahma pergi menemui Ismail, setelah sampai Ismail langsung berlari kearahnya sambil memanggil-manggilnya.”Mamah”. panggil Ismail sambil mendekat kearahnya

Melihat anaknya yang terlihat begitu bahagia ia tak ingin jika Ismail tahu kejadian yang sebenarnya, Rahma tak ingin melihat anak yang begitu ia cintai menjadi sedih karena masalah yang sedang ia hadapi. Rahma memeluk Ismail dengan spontan Rahma menangis, melihat Mamahnya menangis Ismail sedikit curiga dengan apa yang sedang dihadapi Mamahnya.

“Mamah kenapa”? Tanya Ismail lalu mengusap air mata Rahma

Rahma tersenyum.”Mamah nggak papa kok sayang”. Jawab Rahma

“tapi kok Mamah ko nangis”.

Rahma kembali memeuk Ismail dan menangis.”Mamah nggak papa sayang, Mamah nggak papa”.

Diperjalanan Rahma diam memikirkan harus bagaimana nanti, ia masih tak tahu harus bersikap apa pada Fahmi. Melihat tingkah Mamahnya yang begitu aneh Ismail marasa sedih, berkali-kali ia mengajak mamahnya bercanda namun Rahma hanya meresponnya singkat dan terkesan mengabaikannya. Sampai dirumah Rahma meminta Mba sari untuk membantunya menjaga Ismail dengan alasan ia sedang tidak enak badan dan mau langsung istirahat dikamarnya saja.

Semakin difikirkan Rahma semakin bingung harus bagaimana, ia hanya bisa menangis dikamarnya. Saat Ismail ingin memberikan makanan kepada Rahma, ia melihat Mamahnya sedang menangis, ia pun tak jadi masuk karena tak ingin mengganggu Mamahnya. Ismail meminta mba Sari untuk membantunya menghubungi Fahmi Papahnya untuk sekedar memberitahu namun lagi-lagi Fahmi mengatakan jika ia sedang sibuk.

Ismail ke kamarnya karena marah Fahmi selalu saja mengabaikannya, mba Sari berkali-kali menghubungi Fahmi kembali untuk memeberitahu kondisi dirumahnya.”Tuan ini Sari”. Kata Sari

“ada apa sih mba, tadi kan saya sudah bilang jika saya sedang sibuk. Ini jam kerja loh mba”. Kata Fahmi

“tapi tuan”. Fahmi memotong pembicaraan

“udah ya, nanti aja pas dirumah”. Fahmi mematikan telfonnya

Sari berusaha memanggil Rahma tapi tak ada jawaban darinya, ia pun kekamar Ismail untuk menghiburnya tapi Ismail pun tak menjawabnya.

Malam pun tiba, tengah malam Fahmi baru pulang. Saat ia masuk tidak seperti biasanya Rahma dan Ismail sudah tidur padahal biasanya mereka menunggunya sampai pulang. Tak ada rasa yang aneh dibenaknya, ia pun ke kamar dan mendapati Rahma telah tertidur pulas, bahkan tak mendengarnya saat dipanggil.

Karena tak ingin mengganggu istrinya Fahmi langsung tidur disamping Rahma yang ternyata belum tidur, ia hanya berpura-pura karena tak ingin berbicara dengan Fahmi yang ternyata telah menghianati pernikahannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *