Cinta Beda Usia

Diposting pada

 

Sinar terang diantara bintang-bintang mungkin tidak lebih indah dari pesona yang terpancar dari wajahmu, entah mengapa aku tidak bisa berhenti untuk menghargai ciptaan tuhan yang begitu terpancar dari sorot matamu. Kamu datang saat matahari terbit namun kamu pergi saat matahari terbenam, seperti kisah dongeng yang masuk kedalam kehidupanku. Dan senyuman apa itu yang selalu saja tidak bisa membuat aku berpaling darinya, namun aku tahu dimana posisiku dan dimana tempat mu yang mungkin tidak akan pernah bisa aku raih.

Matahari belum muncul namun Nino sudah rapih dan siap untuk pergi kesekolah, padahal waktu tempuh untuk kesekolah hanya 10 menit dari rumahnya. Ia pun kedapur mengambil sedikit roti untuk mengganjal perutnya, dari belakang ibunya mengagetkan Nino.”Nino”. Kata ibunya yang membuat Nino kaget

“astagfirrulloh ibu, ngagetin aja sih”.

“kamu mau berangkat jam segini lagi”. Tanya ibunya

“iya bu”.

“Nino sekolah kamu kan nggak jauh-jauh banget, kenapa kalo berangkat pagi-pagi buta seperti ini”.

“sekolah Nino jauh bu”.

“udah sholat subuh”.

“udah dong, Nino langsung berangkat ya bu. Assalamualaikum”. Nino mencium tangan dan kening ibunya yang langsung bergegas keluar rumah.

“waalaikumsalam, Nino Nino aneh banget anak itu”. Kata ibunya lirih

Nino berdiri dirumah seseorang yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, setelah menunggu cukup lama matahari pun perlahan memancarkan sinarnya dan disaat itulah seseorang yang Nino tunggu muncul. Tentu saja Nino langsung mendatanginya dan menyapa wanita itu.”assalamualaikum kak, selamat pagi”. Kata Nino yang seperti sudah tidak asing lagi bagi wanita itu

“waalaikumsalam, Nino kamu kesini lagi”. Katanya lembut

“kak Sinta belum sarapan kan, ini Nino punya roti buat ganjel perut kak supaya nggak kena mag”. Nino sedikit meledeknya

“hmmm iya makasih ya Nino, tapi kayaknya nggak perlu kalo tiap hari kesini Cuma mau nganter sarapan. Nanti kak Sinta ngerepotin kamu lagi”.

“enggak enggak kok kak, kan ini Nino yang mau”.

“ya udah Nino, nggak enak kalo kita berduaan seperti ini. Kita kan bukan mukhrim”.

“iya kak, Nino Cuma mau kasih kakak sarapan kok”.

Setelah memberikan roti buatannya Nino pun pergi namun dari belakang Nino megikuti Sinta sampai ketempat kerjannya, karena Nino takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Walaupun Sinta selalu menganggap Nino ini seperti adiknya tapi bagi Nino itu tidak masalah asal masih bisa dekat dengan wanita yang sangat ia sayangi, bagi Nino Sinta adalah wanita yang sangat ia hargai bukan karena Sinta lebih tua darinya tapi karena perilaku dan sifatnya yang membuat Nino jatuh hati padanya.

Pulang sekolah pukul 16.00 Wib…….

Nino sengaja tidak langsung pulang, ia pergi ketempat Sinta bekerja. Nino menunggu sampai tidak sadar hujan pun turun, karena tidak membawa payung ia pun membelinya untuk dipakai oleh Sinta nantinya.

Matahari mulai terbenam Nino kembali kekantor Sinta dengan membawa payungya, namun sesampainya didepan kantor Nino melihat seorang laki-laki bersama Sinta mungkin ia sedang menawarkan Sinta untuk mengntarnya pulang menggunakan mobilnya. Dalam hati Nino berkecambuk dan berharap jika Sinta menolak tawaran itu, tapi semua itu hanya harapannya saja pastilah Sinta menerimanya apalagi sekarang hujan turun begitu derasnya. Nino tidak sanggup melihat kejadian ini, ia pun pergi dan meninggalkan payung yang dibelinya.

Nino berjalan tanpa memperhatikan sekitar, dalam kondisi marah Nino pun menyebrang tanpa memperhatikan rambu-rabu dan kendaraan yang lalu lalang. Sampai kendaraan melintas yang langsung menabrak tubuh Nino, ia pun terpental ditengah derasnya hujan dan tergeletak tidak berdaya namun Nino masih sadarkan diri dan memikirkan Sinta dalam situasi seperti ini. Semua orang mengerubuti Nino, dilihatnya satu persatu dan tanpa Nino sangka Sinta ada didalam salah satu dari mereka, ia tersenyum melihat kearah Sinta seakan tidak terjadi apapun.”Nino Nino Nino, kamu nggak apa-apa kan”. Kata Sinta panik

Nino terus saja tersenyum pada Sinta

“Nino jangan kamu jangan becanda Nino”. Kata Sinta sambil menangisi Nino yang penuh darah

“kak Sinta”. Kata Nino lirih

“aku disini Nino”.

“ada sesuatu yang mau katakan”.

“apa Nino”.

“apa tidak bisa kakak menganggap aku sebagai laki-laki dan mencintaiku seperti laki-laki bukan seperti adikmu”.

Sebelum mendengar apa yang Sinta katakan Nino pun tidak sadarkan diri, dan dibawanya kerumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama..

One thought on “Cinta Beda Usia

  1. Thank yyou ɑ bunch for sharing tһiѕ wіth all fols you
    rеally recognise whɑt you are talking abоut! Bookmarked.
    Kinmdly аlso talk оver with my website =).
    We wiⅼl have a hyoerlink tгade contract Ьetween us

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *