Bully

Diposting pada
cerpen tentang bully
cerpen tentang bully disekolah

 

Cerpen tentang bully – Kasus bully mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, karena sudah banyak kejadian bully yang terjadi sekarang-sekarang ini. Mungkin banyak yang menganggap kasus seperti ini biasa diantara kaum pelajar tapi apakah kalian tahu jika kasus bully bisa mengakibatkan trauma yang sangat mendalam bagi korbannya, bagi mereka yang mengatakan bully itu biasa Cuma dua kemungkinan mereka tidak mendapatkan bullyan waktu masih sekolah atau memang merekalah tersangka pembullyan.

8 tahun yang silam…

Untuk pertama kalinya Heni pulang ke kampung halaman ibunya, dengan berbagai alasan Heni hanya boleh sekolah dikampung karena menurut orangtuanya pergaulan dikampung belum terlalu berbahaya seperti dikota. Ia melihat keluar jendela terbentang sawah yang masih luas dikelilingi oleh banyak gunung-gunung yang menjulang tinggi, ia masih kecil saat itu dan hanya patuh pada apa yang dikatakan orangtuanya.

Awalnya Heni sangat bahagia bisa tinggal didaerah perkampungan sampai akhirnya ia bertemu dengan teman-teman yang tinggal didaerah itu, merasa paling hebat karena berasaal dari kota Heni sedikit menunjukan rasa sombongnya. Itu dilakukan semata-mata karena ia masih memilih teman apa yang akan ia pilihnya nanti, karena sikapnya yang seperti ini Heni mendapat perlakukan buruk dari teman-temannya.

Dari awal masuk sekolah banyak yang tidak menyukai Heni, walaupun ia sudah bersikap ramah namun teman-temannya masih belum bisa menerima kehadian Heni, hanya satu temannya yang mau bermain dengan Heni waktu itu, namanya Fifah. Fifah adalah satu-satunya teman Heni yang selalu ada untuknya bahkan ia selalu membela Heni saat teman-teman yang lain berusaha memusuhi Heni. Seperti hari ini Heni mendapat uang jajan lebih karena ia mendapat kiriman uang dari ayahnya, ia pun membawa uang itu kesekolah untuk jajan bersama Fifah temannya.”Fifah”. panggil Heni dari jauh

Seseorang mendekati Heni.”kayaknya kamu lagi dapat uang ya, belikan aku es krim yang disitu ya 2”. Kata Tina

“kenapa tidak membeli sendiri”. Jawab Heni merasa takut

“emang kamu nggak mau jadi temen aku”.

“mau kok Tina, sebentar aku belikan ya”.

Baca juga : Cerpen remaja tentang bully

Dari jauh Fifah curiga kenapa Tina mendekati Heni dan tidak lama Heni pergi begitu saja, Fifah pun menghampiri Tina untuk menanyakan apa yang dilakukannya pada Heni.”Tina”. panggil Fifah.”kamu ngapain deketin Heni”.

“kenapa sih Fif, kamu selalu belain dia. Orang sombong kayak Heni itu nggak pantes punya teman”.

“Tina, Heni itu nggak sombong. Justru aku ngerasa emang kamu manfaatin Heni kan, aku kasih tau ya Tina sebenci apapun kamu sama Heni nggak seharusnya kamu memperlakukan dia seperti ini. Apalagi kamu deketin dia saat Heni lagi punya uang, tapi kalo engga bahkan kamu sering bilang ketemen-temen untuk jauhin Heni. Itu nggak baik Tina, inget apa yang kamu tanam maka itu yang kamu petik”.

Seakan tidak perduli dengan omongan Fifah yang menurutnya tidak penting Tina pun hanya mengabaikannya dan tetap bersikap seenaknya pada Heni, tanpa mereka tahu jika sedari tadi Heni mendengar semua pembicaraan mereka namun Heni berusaha untuk menguburnya dalam-dalam dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

8 tahun setelahnya…

Hari ini pernikahan Tina, teringat masalalu tidak membuat Heni benci atau tidak menyukai Tina. Justru ia ingin menunjukan pada Tina sikap baik agar Tina tahu bahwa ia tidak menyimpan dendam padanya dan justru masih ingin berteman dengannya. Walaupun tidak mudah tapi keinginan Heni sangat kuat sehingga ia berharap jika apa yang terjadi padanya tidak akan terulang kembali pada  siapapun, karena membully teman sendiri itu adalah kesalahan yang mungkin akan kita sesali suatu hari nanti…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *