Bukan Teroris

Diposting pada

 

Hari ini Dita mempunyai janji untuk mengerjakan tugas bersama teman satu kelompok dirumahnya, ia pun menunggunya di gang masuk rumahnya. Tidak lama temannya pun datang dan Dita pun memberikan isyarat dengan melambaikan tangannya, kemudian mereka pun jalan menuju rumah Dita yang tidak jauh dari tempatnya menunggu. Namun ada yang aneh hari ini, entah mengapa semua tetangganya melihat kearahnya seakan-akan ada hal yang aneh dari mereka. Dita mulai merasa risih dengan tatapan semua orang, sesekali ia melihat Meli namun ia terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apapun.”nggak apa-apa Dit”. Kata Meli mengagetkan Dita

“maksudnya mel”. Jawab Dita

“biarin semua orang melihat kearah kita”.

“oh iya tentu aja aku nggak apa-apa kok mel”. Kata Dita berusaha bersikap biasa

Dita merasa sangat kagum dengan temannya, entah dari mana ia memiliki hati yang sangat lembut dan juga sangat baik. Walaupun Dita tahu bahwa tidak sediki orang yang selalu mencelanya, mengatainya dengan hal-hal yang sangat kejam namun Meli bersikap sangat baik pada semua orang. Tentu saja Dita sangat senang bisa berteman dengan Meli, karena dari Meli ia belajar banyak hal yang mungkin tidak ia dapatkan dari teman yang lainya.

Mereka pun sampai dirumah dan Dita langsung mempersilakan Meli untuk masuk kedalam rumahnya, Dita pun memanggil ibunya untuk memperkenalkan temannya. Tapi respon ibu Dita tentu saja tidak terlalau jauh berbeda dengan kebanyakan orang, ia pun menarik tangan Dita untuk masuk kedalam.”aduh ada apa sih bu”. Tanya Dita

“kok kamu punya teman seperti itu sih Dita”.

“kenapa sih bu, Meli itu baik banget loh”.

“tapi Dita penampilannya membuat ibu takut”.

“kenapa? Karena dia bercadar, begitu bu maksudnya”.

“iya seperti itu, kamu tahu kan banyak kasus pengeboman yang berpakain seperti itu”.

“Astagfirrulloh ibu, kok ibu bicara seperti itu pada seseorang yang dengan niat tulus seperti itu karena ingin mendapat ridho dari Alloh. Jangan pernah salahkan pakaiannya bu, itu nggak salah. Yang adalah perilakunya bukan pakaiannya. Aku mau nemuin Meli dulu”.

Dita pun kesal dengan respon ibunya yang begitu tidak baik pada temannya, ia kembali menemui Meli yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Entah mengapa Meli terlihat begitu tenang dan tidak marah pada semua orang yang memperlakukannya tidak baik, ia hanya diam dan mengabaikannya ya begitulah Meli.”udah sampai mana Mel”? Tanya Dita

“baru sampe sini kok”. Meli menunjuk buku yang sedang ada didepannya

Dita merasa tidak enak pada Meli dengan respon ibunya padanya, ia takut jika Meli merasa tersinggung dengan perlakukan ibunya.”maafin ibu aku ya Mel”.

“iya nggak apa-apa kok Dita, lagian aku paham kok kalo ibu kamu bersikap seperti itu”.

“kok gitu”? Dita bingung

“ya karena berpakian seperti ini, di negara kita kurang familiar dan apa lagi banyak teroris mengatasnamakan agama untuk aksinya”.

“iya sih, tapi menurut aku itu bukan menjadi alasan semua orang untuk memperlakukan kamu seperti itu”.

“iya karena itu mereka ingin kita saling membenci satu sama lain, maka dari itu Dita jangan sampe kita terpancing atau menjadi saling bermusuhan. Dan harus kamu tahu juga bahwa aku bukan teroris, jangan sampe karena satu diantara kami membuat salah maka yang lain ikut disalahkan”.

“aku tahu kok Mel, justru aku kagum sama kamu. Karena kamu begitu sabar dengan tuduhan banyak orang, dan bahkan kamu tetap bersikap baik”.

“aku juga kagum banget sama kamu Dit, karena jika banyak orang mendeskriminasi aku tapi kamu maish mau berteman sama aku. Maksih ya”.

“sabar ya Mel, ini juga ujian buat kamu. Dan jadikan ini sebagai ladang pahala buat kamu, tetep istikomah ya”.

Meli adalah sosok yang sangat dita kagumi, disaat semua orang memperlakukan dia dengan tidak baik namun Meli selalu saja baik. Disaat satu orang membuat kesalahan mengatasnamakan agama maka semua orang yang sepertinya dianggap salah juga, semoga kita terhindar dari kesalahan yang banyak orang lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *